Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
“Abang tahu Bu Romlah, ibu beranak tiga di ujung gang sana?!” teriak istriku dengan suara menggebu-gebu sambil berjalan cepat menghampiriku.
Karena
posisiku yang sedang rebahan di sofa ruang tamu sedang enak-enaknya,
pertanyaannya itu tidak langsung kujawab. Lagi pula cerita di novel yang sedang
kubaca sedang seru-serunya.
“Tahu
tidak?!” katanya kembali bertanya. Rupanya dia sudah duduk di sofa di dekat
kepalaku.
“Iya tahu.
Memangnya kenapa?” jawabku
ringkas masih tanpa menatapnya.
“Dia itu orangnya sangat menyebalkan, Bang,” katanya melanjutkan.
Ada jeda
sejenak sebelum kutimpali. “Rasanya tidak juga. Dia terlihat cukup baik, kok. Setiap kali aku lewat di depan
rumahnya, dia selalu menegur sambil tersenyum. Bahkan beberapa kali dia
menawari untuk memetik mangga di sebelah rumahnya.”
“Iihh...! Abang ini mulai ketularan Buk Romlah, deh! Menyebalkan! Bukannya membela
istri sendiri malah membela orang lain,” balasnya
dengan suara judes.
Saat aku
menoleh, dia sudah berdiri. Wajahnya sudah cemberut. Belum sempat kubujuk, dia
sudah berdiri dan berjalan cepat menuju ruang tengah. Langkah kakinya yang
cepat sudah cukup menjadi pertanda kalau dia baru saja merajuk.
Soreku pun
menjadi kelabu. Bukan karena awan pekat yang sedang menaungi langit di atas
perumahan kami, melainkan karena suasana hati istriku yang tiba-tiba mendung
gara-gara urusan Bu Romlah. Untungnya, walau suasana hatinya sedang seperti
itu, dia tetap memasakkan makanan spesial untuk makan malam kami.
Hingga
kini, isi hati dan pikiran istriku masih menjadi misteri. Sangat susah
menyelaminya. Kupikir dia akan mendiamkanku di meja makan malam ini gara-gara
urusan sore tadi. Rupanya tebakanku keliru. Saat mengambilkan nasi untukku, dia
langsung memulai obrolan.
“Tadi sore
itu Bu Romlah sangat menyebalkan!” katanya kembali mengungkit topik yang belum
selesai dibahas sore tadi.
Aku tidak
langsung menjawab, takut mengulang kesalahan seperti sore tadi. Tatapanku
fokus pada centong yang sedang
digunakannya
untuk memindahkan nasi
minyak ke piring.
“Dia
menyebarkan gosip ke seluruh kompleks kalau Tari mengadopsi anak kucing dan
kambing gara-gara tidak memiliki anak!”
“Kok bisa? Rasanya
tidak mungkin dia melakukan itu,” timpalku tenang mencoba menenangkannya.
Tapi
rupanya tanggapanku salah lagi. Dia malah kembali naik pitam.
“Kok Abang masih
saja membela dia, sih?!” balasnya ketus sambil melepaskan centong yang masih berada di wadah nasi,
urung memindahkan nasi itu ke piring.
“Abang
bukan membela dia. Hanya menyampaikan kesan terhadapnya. Setahuku, selama ini dia selalu bersikap dan berkata-kata yang baik,” balasku dengan nada suara
serius agar terdengar berwibawa.
“Itu kalau dengan laki-laki. Kalau dengan perempuan,
sikapnya na’uzubillah, tidak
pantas diceritakan,” timpalnya sambil kembali meraih
centong dan memindahkan nasi sebanyak dua centong.
“Lha! Sekarang
kenapa kamu malah ikut-ikutan seperti dia, suka menceritakan orang lain?”
“Lama-lama Abang ini kayak dia juga, deh! Meee… nyeeeee… baaaal… kaaaan!!!” Teriaknya sambil memutar
tubuh hampir sembilan puluh derajat menghadap ke dapur.
Setalah
itu, dia tidak berkata-kata lagi. Diabaikannya nasi minyak yang masih menumpuk di piring.
“Ciee ... yang lagi ngambek,” kataku mencoba menggodanya agar amarahnya tidak meluap tanpa kendali.
Tapi dia tetap tidak menggubrisku. Mulutnya malah dibuat monyong.
“Tari
memang cantik dari sononya, deh! Mau senyum, mau mulut monyong. Tetap saja
cantik luar biasa,” kataku mulai merayu.
Tapi tetap saja dia cuek.
Aku pun ikut diam. Biasanya dia tidak tahan kalau diabaikan.
Walaupun mataku fokus menatap ke arah tumpukan nasi minyak di piringku, tapi sesekali tatapan
periferalku masih sempat
memperhatikannya. Aku bersikap
pura-pura tidak tahu sambil terus
sibuk melahap nasi minyak di
piring. Kuperkirakan dalam lima menit dia akan kembali bersuara meminta
perhatianku.
Dugaanku tepat. Beberapa menit kemudian, dia kembali memutar
tubuhnya menghadap ke arahku. Wajahnya tampak merengut, masih kesal. Lalu,
“Abang!!!” teriaknya memanggilku dengan suara yang sangat lantang.
“Eh iya... Kenapa, Sayang?” kataku pura-pura kaget.
Langsung
kupamerkan senyum terindah padanya. Tidak menunggu lama, langsung kukeluarkan
jurus lainnya.
“Aku terbius oleh lezatnya nasi minyak spesial ini, sampai
lupa kalau di depan ada seseorang yang tidak kalah spesialnya. Siapalah ya yang masak
nasi minyak nan lezat ini?” tanyaku beretorika sambil memasang tampang serius,
pura-pura sedang berpikir keras, agar pujianku terasa sangat nyata. Efeknya
biasanya sangat mendalam.
“Iiiih...” Dia
senyum-senyum salah tingkah mendapat pujianku. Ekspresi cemberutnya langsung menghilang.
“Iya, Sayang! Lanjutkan ceritanya. Kali ini aku akan diam
sambil mendengarkan dengan khidmat,” ujarku
dengan serius karena sudah
menyadari kekeliruanku barusan. Aku tidak boleh membantah omongannya kalau
masih ingin bumi berputar dan matahari terbit dari timur.
“Aku punya ide, Bang. Gimana kalau Bu Romlah kita jadikan
objek eksperimen ketiga?” katanya
memberi usulan dengan penuh semangat sambil kembali menyuap nasi minyak di hadapannya.
“Haaah! Jadi semua ini masih tentang eksperimen itu?” Aku
yang tadi berjanji tidak akan mengomentari, tidak tahan juga mendengar
usulannya itu.
“Ho’oh. He he he!” jawabnya sambil senyum-senyum.
Aku hanya bisa menggaruk kepala yang tidak gatal karena mulai membayangkan
kerepotan seperti apa lagi yang akan dimunculkannya. Tidak mungkin menolak
idenya itu, sebab tidak ada gunanya. Kalau dia sudah memutuskan sesuatu, tidak
bisa dihalangi dengan cara apa pun. Saat ini tidak ada gagasan nyeleneh di
kepalaku untuk mengkonter keinginannya itu.
“Iya,
deh!” kataku menyetujui usulannya dengan sangat,
sangat, sangat terpaksa.
Dia langsung berdiri dari tempat duduknya, memutari tepi
kanan meja, berjalan ke arahku dan memelukku dari samping dengan erat,
“Terima kasih, Sayang,” katanya
sembari menciumi pipi kiri dan kananku.
Sangat sering dia memperlakukanku seperti ini, dikiranya aku
anak bayi. Atau mungkin tampangku memang baby
face ya? Aku nyengir-nyengir sendiri membayangkan tampangku yang seperti baby face.
“Abang kenapa nyengir begitu?” tanyanya heran.
“Lha! Kalau aku sedang bahagia, ekspresiku memang seperti
ini, bukan?”
“Iya ya.. Hee...” Dia ikut-ikutan nyengir.
Setelah kembali duduk di kursinya semula, dia melanjutkan rencananya,
“Kalau eksperimen ini nantinya berhasil, dampaknya tidak
buruk, Bang. Malah akan berdampak baik, Bu Romlah tidak akan menyebalkan lagi. Sebaliknya, kalau
eksperimennya tidak berhasil, itu juga bagus. Berarti hipotesis ketigalah yang
berlaku. Abang memang
tidak memiliki keanehan itu.”
“Memangnya seperti apa eksperimen yang ingin kamu lakukan?” tanyaku
masih memendam rasa khawatir bakal kembali direpotkan.
“Gini. Abang tulis saja cerita tentang Bu Romlah yang mengalami peristiwa luar
biasa. Peristiwa itu kemudian membuatnya bertobat dan mengubah sikap dan
perilakunya yang menyebalkan
itu. Hehehe...”
“Hanya begitu?”
“Iya. Hanya begitu.”
“Ooh. Kalau begitu aku setuju,” timpalku penuh semangat.
Lega sekali rasanya. Ternyata eksperimen ketiga ini tidak
terlalu merepotkan daripada dua eksperimen sebelumnya.
Dia
berdiri dari tempat duduk dan berjalan menuju ruang tengah, meninggalkan nasi
minyaknya yang masih tersisa setengah.
Sementara aku kembali melanjutkan menyuap nasi minyak yang
masih tersisa. Tingkah anehnya benar-benar membuatku bengong.
“Ini, Bang!” katanya tiba-tiba sambil meletakkan laptopku di
atas meja makan di sebelah piring di depanku.
“Lha?! Apa ini?”
“Langsung eksekusi saja, Bang. Mumpung alur cerita untuk Bu
Romlah masih hangat di otakku.”
“Hah?! Ditulis sekarang?!”
“Lebih
cepat lebih bagus,”
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.