Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 5. Eksperimen Ketiga

Halaman Depan > Novel > S.I.P (sekuel novel M.I.T) > Bab 5. Eksperimen Ketiga
____________________________________________

“Abang tahu Bu Romlah, ibu beranak tiga di ujung gang sana?!teriak istriku dengan suara menggebu-gebu sambil berjalan cepat menghampiriku.

Karena posisiku yang sedang rebahan di sofa ruang tamu sedang enak-enaknya, pertanyaannya itu tidak langsung kujawab. Lagi pula cerita di novel yang sedang kubaca sedang seru-serunya.

“Tahu tidak?!” katanya kembali bertanya. Rupanya dia sudah duduk di sofa di dekat kepalaku.

Iya tahu. Memangnya kenapa?” jawabku ringkas masih tanpa menatapnya.

“Dia itu orangnya sangat menyebalkan, Bang,” katanya melanjutkan.

Ada jeda sejenak sebelum kutimpali. “Rasanya tidak juga. Dia terlihat cukup baik, kok. Setiap kali aku lewat di depan rumahnya, dia selalu menegur sambil tersenyum. Bahkan beberapa kali dia menawari untuk memetik mangga di sebelah rumahnya.”

“Iihh...! Abang ini mulai ketularan Buk Romlah, deh! Menyebalkan! Bukannya membela istri sendiri malah membela orang lain,balasnya dengan suara judes.

Saat aku menoleh, dia sudah berdiri. Wajahnya sudah cemberut. Belum sempat kubujuk, dia sudah berdiri dan berjalan cepat menuju ruang tengah. Langkah kakinya yang cepat sudah cukup menjadi pertanda kalau dia baru saja merajuk.

Soreku pun menjadi kelabu. Bukan karena awan pekat yang sedang menaungi langit di atas perumahan kami, melainkan karena suasana hati istriku yang tiba-tiba mendung gara-gara urusan Bu Romlah. Untungnya, walau suasana hatinya sedang seperti itu, dia tetap memasakkan makanan spesial untuk makan malam kami.

Hingga kini, isi hati dan pikiran istriku masih menjadi misteri. Sangat susah menyelaminya. Kupikir dia akan mendiamkanku di meja makan malam ini gara-gara urusan sore tadi. Rupanya tebakanku keliru. Saat mengambilkan nasi untukku, dia langsung memulai obrolan.

“Tadi sore itu Bu Romlah sangat menyebalkan!” katanya kembali mengungkit topik yang belum selesai dibahas sore tadi.

Aku tidak langsung menjawab, takut mengulang kesalahan seperti sore tadi. Tatapanku fokus pada centong yang sedang digunakannya untuk memindahkan nasi minyak ke piring.

“Dia menyebarkan gosip ke seluruh kompleks kalau Tari mengadopsi anak kucing dan kambing gara-gara tidak memiliki anak!”

“Kok bisa? Rasanya tidak mungkin dia melakukan itu,” timpalku tenang mencoba menenangkannya.

Tapi rupanya tanggapanku salah lagi. Dia malah kembali naik pitam.

“Kok Abang masih saja membela dia, sih?!” balasnya ketus sambil melepaskan centong yang masih berada di wadah nasi, urung memindahkan nasi itu ke piring.

Abang bukan membela dia. Hanya menyampaikan kesan terhadapnya. Setahuku, selama ini dia selalu bersikap dan berkata-kata yang baik,” balasku dengan nada suara serius agar terdengar berwibawa.

“Itu kalau dengan laki-laki. Kalau dengan perempuan, sikapnya na’uzubillah, tidak pantas diceritakan,timpalnya sambil kembali meraih centong dan memindahkan nasi sebanyak dua centong.

“Lha! Sekarang kenapa kamu malah ikut-ikutan seperti dia, suka menceritakan orang lain?

“Lama-lama Abang ini kayak dia juga, deh! Meee… nyeeeee… baaaal… kaaaan!!!Teriaknya sambil memutar tubuh hampir sembilan puluh derajat menghadap ke dapur.

Setalah itu, dia tidak berkata-kata lagi. Diabaikannya nasi minyak yang masih menumpuk di piring.

“Ciee ... yang lagi ngambek,kataku mencoba menggodanya agar amarahnya tidak meluap tanpa kendali.

Tapi dia tetap tidak menggubrisku. Mulutnya malah dibuat monyong.

Tari memang cantik dari sononya, deh! Mau senyum, mau mulut monyong. Tetap saja cantik luar biasa,kataku mulai merayu.

Tapi tetap saja dia cuek.

Aku pun ikut diam. Biasanya dia tidak tahan kalau diabaikan. Walaupun mataku fokus menatap ke arah tumpukan nasi minyak di piringku, tapi sesekali tatapan periferalku  masih sempat memperhatikannya. Aku bersikap pura-pura tidak tahu sambil terus sibuk melahap nasi minyak di piring. Kuperkirakan dalam lima menit dia akan kembali bersuara meminta perhatianku.  

Dugaanku tepat. Beberapa menit kemudian, dia kembali memutar tubuhnya menghadap ke arahku. Wajahnya tampak merengut, masih kesal. Lalu,

 “Abang!!!” teriaknya memanggilku dengan suara yang sangat lantang.

“Eh iya... Kenapa, Sayang?” kataku pura-pura kaget.

Langsung kupamerkan senyum terindah padanya. Tidak menunggu lama, langsung kukeluarkan jurus lainnya.

“Aku terbius oleh lezatnya nasi minyak spesial ini, sampai lupa kalau di depan ada seseorang yang  tidak kalah spesialnya. Siapalah ya yang masak nasi minyak nan lezat ini?” tanyaku beretorika sambil memasang tampang serius, pura-pura sedang berpikir keras, agar pujianku terasa sangat nyata. Efeknya biasanya sangat mendalam.

“Iiiih...” Dia senyum-senyum salah tingkah mendapat pujianku. Ekspresi cemberutnya langsung menghilang.

“Iya, Sayang! Lanjutkan ceritanya. Kali ini aku akan diam sambil mendengarkan dengan khidmat,ujarku dengan serius karena sudah menyadari kekeliruanku barusan. Aku tidak boleh membantah omongannya kalau masih ingin bumi berputar dan matahari terbit dari timur.

“Aku punya ide, Bang. Gimana kalau Bu Romlah kita jadikan objek eksperimen ketiga?” katanya memberi usulan dengan penuh semangat sambil kembali menyuap nasi minyak di hadapannya.

“Haaah! Jadi semua ini masih tentang eksperimen itu?” Aku yang tadi berjanji tidak akan mengomentari, tidak tahan juga mendengar usulannya itu.

“Hooh. He he he!jawabnya sambil senyum-senyum.

Aku hanya bisa menggaruk kepala yang tidak gatal karena mulai membayangkan kerepotan seperti apa lagi yang akan dimunculkannya. Tidak mungkin menolak idenya itu, sebab tidak ada gunanya. Kalau dia sudah memutuskan sesuatu, tidak bisa dihalangi dengan cara apa pun. Saat ini tidak ada gagasan nyeleneh di kepalaku untuk mengkonter keinginannya itu.

“Iya, deh!kataku menyetujui usulannya dengan sangat, sangat, sangat terpaksa.

Dia langsung berdiri dari tempat duduknya, memutari tepi kanan meja, berjalan ke arahku dan memelukku dari samping dengan erat,

“Terima kasih, Sayang,katanya sembari menciumi pipi kiri dan kananku.

Sangat sering dia memperlakukanku seperti ini, dikiranya aku anak bayi. Atau mungkin tampangku memang baby face ya? Aku nyengir-nyengir sendiri membayangkan tampangku yang seperti baby face.

“Abang kenapa nyengir begitu?” tanyanya heran.

“Lha! Kalau aku sedang bahagia, ekspresiku memang seperti ini, bukan?”

“Iya ya.. Hee...” Dia ikut-ikutan nyengir.

Setelah kembali duduk di kursinya semula, dia melanjutkan rencananya,

“Kalau eksperimen ini nantinya berhasil, dampaknya tidak buruk, Bang. Malah akan berdampak baik, Bu Romlah tidak akan menyebalkan lagi. Sebaliknya, kalau eksperimennya tidak berhasil, itu juga bagus. Berarti hipotesis ketigalah yang berlaku. Abang memang tidak memiliki keanehan itu.”

“Memangnya seperti apa eksperimen yang ingin kamu lakukan?” tanyaku masih memendam rasa khawatir bakal kembali direpotkan.

“Gini. Abang tulis saja cerita tentang Bu Romlah yang mengalami peristiwa luar biasa. Peristiwa itu kemudian membuatnya bertobat dan mengubah sikap dan perilakunya yang menyebalkan itu. Hehehe...”

“Hanya begitu?”

“Iya. Hanya begitu.”

“Ooh. Kalau begitu aku setuju,” timpalku penuh semangat.

Lega sekali rasanya. Ternyata eksperimen ketiga ini tidak terlalu merepotkan daripada dua eksperimen sebelumnya.

Dia berdiri dari tempat duduk dan berjalan menuju ruang tengah, meninggalkan nasi minyaknya yang masih tersisa setengah.

Sementara aku kembali melanjutkan menyuap nasi minyak yang masih tersisa. Tingkah anehnya benar-benar membuatku bengong.

“Ini, Bang!” katanya tiba-tiba sambil meletakkan laptopku di atas meja makan di sebelah piring di depanku.

“Lha?! Apa ini?”

“Langsung eksekusi saja, Bang. Mumpung alur cerita untuk Bu Romlah masih hangat di otakku.”

“Hah?! Ditulis sekarang?!”

Lebih cepat lebih bagus,”

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar