Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Walaupun eksperimen Mentari seperti main-main, tapi dia tetap menjalankannya secara serius dan disiplin. Di awal-awal eksperimen, dia sudah menuliskan semua prosedur secara rinci dan berurutan. Dia juga telah membuat jadwal ketat, kegiatan apa saja yang harus dilakukan secara rutin setiap harinya. Luar biasanya, sampai sejauh ini, semua jadwal yang telah dibuatnya secara ketat itu dipatuhi dan dikerjakannya dengan penuh kedisiplinan.
Dia
memberi makan Lala, Lili, Dodo, dan Didi sesuai jadwal. Dia pun membiarkan Lala dan Lili bermain
pada jam yang telah ditentukan. Pada waktu-waktu tertentu, dia melepas secara bebas Lala dan Lili
seperti yang telah direncanakan. Bleki dibiarkannya mendekati Dodo dan Didi
agar terbuka kemungkinan Dodo jatuh cinta kepada Bleki sesuai dengan yang
kutuliskan.
Memang semuanya terlihat aneh. Bahkan kelakuan anehnya itu membuatku harus geleng-geleng kepala.
Tapi dia tetap punya alasan
yang masuk akal. Katanya, itu semua merupakan konsekuensi dari sebuah rancangan eksperimen. Terpaksa kuanggukkan kepala tanda
persetujuan karena memang
aku tidak mengerti sama sekali tentang dunianya itu.
Secara ringkas, dia melaksanakan semua rencananya tepat waktu, sesuai urutan,
setiap hari, tanpa ada kata bosan sedikit pun. Seumur hidup, tidak pernah kulihat orang sedisiplin dia. Perkiraanku, disiplin tingkat tingginya itu merupakan
buah dari pendidikannya selama di Amerika Serikat tempo hari. Mungkin sikap disiplin itulah yang menjadi pembeda Negara super power itu dengan
Negara lain di dunia. Sikap disiplin itulah yang kemungkinan besat telah membuat bangsa itu menjadi
pemimpin kemajuan peradaban dunia.
Enam bulan setelah menjalankan tiga eksperimen sekaligus,
akhirnya istriku mengalami
sesuatu yang aneh. Dia tiba-tiba sering mual-mual. Padahal menu makanan kami
setiap harinya tidak pernah berubah. Bukannya panik, dia malah senyum-senyum.
Aku pun dibuat pusing oleh tingkah anehnya itu.
Rupanya itu
adalah sebuah kabar yang
sangat menggembirakan.
Itu adalah pertanda bahwa sebentar
lagi anggota keluarga kami akan bertambah. Dia bakal punya bukti yang tidak diragukan lagi untuk membungkam mulut
Bu Romlah yang telah menebar gosip murahan di kompleks perumahan kami. Dia dan
aku bisa memiliki anak sendiri karena sekarang dia sedang hamil!
Aku pun bahagia luar biasa.
Kelelakianku pun kini tidak perlu diragukan lagi dan telah menjadi sempurna. Kini aku sudah memiliki
jawaban pamungkas untuk pertanyaan ibuku yang tak berjeda. Setiap kali beliau
menelepon, pertanyaannya selalu sama, “Kapan ibu bisa mengendong cucu?”
Sejak itu, Mentari
mulai mengurangi kegiatan di luar rumah. Namun, dia tidak berniat
mengambil cuti dari
kampus. Enam bulan pertama kehamilannya, dia tetap datang ke kampus. Setelah
itu, dia meminta izin untuk melaksanakan kewajiban dari kampus melalui
media online saja. Pembelajaran
maupun rapat dilakukannya secara daring dari rumah lewat berbagai platform e-learning maupun online meeting.
Semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja. Itu karena dia sudah mempersiapkan
diri dengan matang. Dia sudah punya segala macam pengetahuan tentang ibu hamil bahkan
sampai persiapan untuk melahirkan.
Sebenarnya aku sangat mencemaskan keadaannya. Aku pernah memintanya untuk tidak lagi direpotkan oleh
hewan-hewan eksperimennya. Pernah
kuusulkan padanya untuk menyudahi eksperimennya yang tidak jelas manfaatnya
itu. Seharusnya dia
lebih banyak istirahat untuk menjaga kehamilannya.
Usulanku
langsung ditolaknya mentah-mentah. Katanya eksperimen itu sangat penting untuk menenangkan hati dan
pikirannya. Dia merasa
terganggu kalau sebuah misteri di depan matanya tidak mendapatkan penjelasan
dan bukti yang kuat. Lagipula, katanya lagi,
semakin banyak dia bergerak, semakin sehatlah
kehamilannya.
Seperti biasa, lagi-lagi aku pun kalah berdebat. Sebenarnya lebih tepat dikatakan kalau aku mengalah demi kebaikan bersama. Kubiarkan saja ketika dia
Di bulan ke
tujuh, dia tetap semangat dan energik. Tidak ada permintaan aneh-aneh yang
diajukannya seperti kebanyakan dilakukan ibu hamil lainnya. Namun di suatu
pagi, tidak seperti biasanya, dia tampak tergesa-gesa berjalan ke arah kandang Dodo dan kawan-kawan.
“Kenapa,
Sayang? Kok tergesa-gesa begitu?” tanyaku penasaran.
“Tari baru ingat kalau hari ini ada seminar internasional yang
diselenggarakan secara daring.
Tari ditunjuk menjadi pembicara utama. Acaranya sebentar lagi dimulai,” jawabnya dengan suara yang juga tergesa-gesa.
“Ya sudah.
Biar aku yang memberi
makan Lala, Lili, Dodo, dan Didi. Kamu langsung menyiapkan diri saja,” timpalku
menawarkan bantuan.
“Tidak
usah. Tari masih sempat, kok.
Takutnya orang yang memberi makan mempengaruhi selera makan mereka. Kalau abang yang memberi
makan, mereka takutnya malah
tidak selera. Hi hi
hi,” timpalnya masih sempat menggodaku.
“Ya sudah,” kataku menanggapi dengan sikap pura-pura
tidak peduli.
Aku tetap duduk di
meja makan dan kembali mengetik di laptop.
Belum
sampai seratus kata aku mengetik, tiba-tiba terdengar teriakannya dari halaman belakang.
“Abang!!!” teriaknya dengan suara melengking.
Teriakannya
itu langsung membuatku kaget bukan kepalang. Jarang sekali dia memanggil
dengan berteriak seperti itu,
kecuali kalau sedang marah-marah. Tapi sedari tadi tidak ada tanda-tanda dia sedang marah. Berarti ada
kejadian lain?!
Tanpa
berpikir panjang, aku langsung berdiri dan berlarian menuju sumber
teriakannya. Kekagetanku semakin bertambah ketika
terlihat dia sudah
tertelentang di dekat kandang Dodo dan Didi.
Lantai
tempatnya telentang itu memang dilapisi semen acian dan mulai berlumut. Ditambah pula lantai
itu masih basah bekas hujan tadi malam, jadi permukaannya licin. Mungkin karena tergesa-gesa. dia tidak mampu menyeimbangkan badan
sehingga terpeleset.
“Tari kenapa?!” tanyaku panik sambil berlari menghampirinya.
“Tari terpeleset, Bang,” jawabnya
dengan suara tenang.
Rupanya kejadian
dan kondisi yang sedang dialaminya tidak membuatnya panik. Dia terlihat tidak
berusaha berdiri. Mungkin kondisi
kehamilannya membuatnya
kesulitan untuk duduk apalagi berdiri. Dibiarkannya saja tubuhnya telentang seperti itu.
Kusorongkan
tangan di belakang pundaknya, berusaha membantunya untuk duduk. Tapi rupanya dia tetap kesulitan untuk
mengangkat kepala.
“Tidak
usah, Bang. Leher Tari
sakit,” jawabnya datar, tanpa merintih kesakitan sama sekali.
Dia kemudian
malah berusaha
tersenyum. Sepertinya dia
tidak ingin membuatku khawatir.
Kusorongkan
kedua tanganku sekaligus, satu
di bawah leher, satu
lagi di bawah pinggangnya, hendak
menggendong dan
memindahkannya ke kursi sofa panjang yang menghadap ke halaman belakang. Sayangnya, aku tidak sanggup melakukannya.
Berat badannya selama hamil naik
drastis, mungkin hampir dua kali lipat dari berat badan sebelum hamil. Sewaktu baru menikah saja aku
kesulitan menggendongnya, apalagi
sekarang.
“Jadi
gimana?” tanyaku makin panik.
“Hubungi
Mama dan Papa saja, Bang,” timpalnya tetap datar dan tenang. Dia tampak pasrah dengan kondisinya itu.
Aku pun berdiri
dan berlarian ke arah meja
makan, tempat di mana ponsel
kutinggalkan terakhir
kali. Dengan tergesa-gesa
langsung kuraih ponsel itu. Saking paniknya, bukannya menelepon
mertuaku, aku malah menelepon rumah sakit.
“Halo, ada
yang bi….”
Belum
sempat petugas rumah sakit menyelesaikan sapaan basa basinya, langsung
kuinterupsi, “Tolong kirimkan ambulance ke Kompleks Perumahan Gemilang
Permai Blok B Nomor 71! Keadaan darurat!”
“Boleh
diceritakan keadaan daruratnya seperti apa?”
“Tidak usah
banyak tanya dan berbasa basi! Ini terkait nyawa manusia!” bentakku naik pitam.
“Baik, Pak!
Mohon ditunggu.”
Tanpa
mengucapkan kata-kata penutup, langsung kututup panggilan itu, sebab aku harus
menelepon dan memberitahu orang tuaku di kampung dan juga mertuaku. Setelah selesai memberitahu mereka,
aku kembali ke belakang
rumah, tidak tega membiarkan istriku menunggu lama di sana.
“Tunggu
sebentar, ya. Aku sudah minta ambulance ke sini,” kataku padanya berusaha menenangkan dengan
nada suara penuh kepanikan.
“Lho kok?” tanyanya
heran.
“Tidak
apa-apa. Lebih aman kalau kita ke rumah sakit saja. Takutnya terjadi apa-apa pada
kandunganmu,” jawabku berupaya menenangkannya sekaligus mengendalikan
kepanikanku sendiri.
Setengah jam kemudian terdengar sirine ambulance mendekat.
“Tunggu
sebentar di sini, ya, Sayang, ya,” kataku dengan lembut.
Aku berdiri dan bergegas menuju ruang tamu lalu langsung membuka
pintu depan. Dua orang
laki-laki berbaju serba putih sudah berdiri di depan pintu. Salah satu di antara mereka membawa tandu lipat
di tangan kanan.
“Di mana
pasiennya?!” Tanya mereka sambil melangkah masuk.
Aku sempat
terpana sesaat, sebelum kembali tersadar. Langsung kuajak mereka menuju ke belakang
tempat istriku terbaring. Mereka pun mengikuti.
Sesampainya di tempat istriku tergeletak, salah satu petugas langsung menginstruksikan kepada kami seperti apa posisi
untuk mengangkat tubuh Mentari ke atas tandu yang sudah terbuka lipatannya. Tidak alasannya bagaimana kami bisa mengangkat
tubuhnya yang lumayan berat. Entah kenapa rasanya tenagaku menjadi
berlipat-lipat.
Saat tubuh
istriku mulai terangkat, terlihat cairan bening mengalir ke lantai dari
selangkangannya. Itu tidak terlalu kupedulikan
karena kupikir dia
tidak dapat menahan kencing.
Setelah
tubuh istriku berada di atas tandu, salah satu petugas langsung mendorong tandu
ke depan rumah melewati dapur, ruang tengah, dan ruang tamu. Aku ikut mendorong
di samping kepala istriku sambil terus menggenggam erat tangannya.
Tak sedetik
pun tatapan kuarahkan ke tempat lain. Terus saja kutatap wajah istriku yang
tampak mulai mengernyit kesakitan. Tampaknya dia mulai tidak kuat
menyembunyikan rasa sakitnya itu.
“Tenang,
ya, Sayang,” kataku berbisik, lebih terdengar seperti menenangkan dan
menguatkan diri sendiri.
Dua petugas
tersebut sangat gesit dan cekatan dalam menjalankan tugas mereka. Sesampainya
di bekalang ambulance, salah satu
petugas menekan tombol di gantungan kunci mobilnya. Pintu belakang terbuka
otomatis. Petugas satunya lagi lalu mendorong tandu ke arah dalam mobil. Entah
bagaimana mekanismenya, tandu itu masuk dengan mudah.
Aku menyusul
masuk dan duduk tepat di samping istriku. Petugas tadi menutup pintu. Mobil ambulance pun mulai terasa bergerak.
Sepanjang
perjalanan, mataku terus menatap istriku sambil mengelus ubun-ubunnya.
Kepanikanku kembali muncul setelah dia mulai terlihat lemas. Wajahnya tampak
pucat. Dia terus saja mengelus perutnya. Segala macam doa kupanjatkan di dalam
hati berkali-kali.
Kami tiba di rumah sakit setengah jam kemudian. Setelah pintu belakang terbuka, tampak dua orang petugas muncul. Mereka
langsung menurunkan tandu istriku. Aku ikut turun. Petugas itu mendorong tandu
masuk ke ruang Instalasi Gawat Darurat. Aku pun terus mengekor di belakang mereka.
Petugas IGD
bekerja dengan cekatan. Aku tidak tahu apa saja yang mereka lakukan karena
fokus menenangkan istriku, dan menenangkan diri sendiri.
Setengah jam kemudian seorang perawat memanggilku. Katanya
dokter jaga IGD ingin
berbicara denganku. Aku pun langsung berdiri dan berjalan cepat menuju meja
dokter yang dimaksudkannya.
“Istrimu mengalami pecah ketuban. Setelah diperiksa secara
seksama, ternyata air ketubannya sudah habis. Kami terpaksa harus melakukan
operasi caesar untuk menyelamatkan
janin di dalam kandungannya.”
Si Dokter berupaya menjelaskan keadaan sejelas mungkin.
Dadaku langsung bergemuruh mendengar itu. Darahku memanas.
“Kenapa ini terjadi padaku,” bathinku dalam hati. Rasanya aku ingin sekali
menangis.
“Apakah
kamu setuju?” tanyanya
kemudian.
“Lakukan saja yang
terbaik, Dok!” Aku pun mengiyakan dengan kata-kata yang sangat berat diucapkan.
“Kalau begitu, kamu tandatangani dulu surat persetujuan
operasi ini. Kalau mau dibaca dulu silakan.” Dokter itu menyodorkan beberapa lembar kertas ke arahku.
Dari ucapannya,
sudah bisa ditebak apa
isi surat yang disodorkannya padaku. Tanpa banyak berpikir, langsung kutandatangani surat itu.
Kondisi istriku sedang gawat darurat, perlu penanganan segera. Tindakan cepat
sangat dibutuhkan saat ini.
“Silahkan hubungi bagian pendaftaran disana untuk mengurus
administrasinya.” Si Dokter menunjuk meja di dekat pintu masuk.
Aku
mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk si dokter. Di situ sedang
duduk dua orang, laki-laki dan perempuan muda, di belakang meja minimalis modern. Mereka
tampak sedang melayani seorang ibu muda. Keduanya terus menerus
tersenyum dan berbicara dengan tata kata yang indah dan nyaman didengar.
Setelah
mengangguk dan mengucapkan terimakasih kepada si dokter, aku pun berdiri
dan bergegas menuju
meja yang ditunjuknya.
Saat aku
mendekat, dua orang yang telah kuamati dari tadi tersenyum ke arahku.
“Silakan,”
kata petugas laki-laki mempersilakan duduk.
Aku pun
duduk di kursi tepat dihadapan mereka.
“Ada yang
bisa kami bantu?” Tanya petugas perempuan.
Langsung
kusampaikan maksudku. “Aku hendak mendaftar untuk operasi
cesar.”
“Oke
baiklah,” timpalnya dengan ramah. Mereka pun langsung melayaniku dengan baik.
Setelah menyelesaikan administrasi dengan dua orang petugas itu, salah satu
perawat dari IGD datang menghampiriku.
“Istri Bapak sudah dibawa ke ruang operasi lantai 2. Naiknya
lewat sana, Pak,” katanya
sambil menunjuk tangga di ujung lorong.
Tanpa menunggu lama, langsung kuarahkan langkah kaki ke arah yang
ditunjuk perawat barusan. Aku ingin segera ke ruang operasi. Ingin menunggui
Mentari di sana.
***
“Gimana kondisi
Mentari?! Dia kenapa?!”
Ibu mertuaku yang baru saja tiba langsung bertanya dengan ekspresi penuh kepanikan.
Matanya tampak merah
dan berair.
Aku tidak
langsung menjawab karena menyalami mereka terlebih dahulu.
Ayah
mertuaku terlihat lebih tenang
sambil merangkul dan menepuk-nepuk pundak ibu mertuaku untuk menenangkan.
“Tari sedang
di ruang operasi ini,
Ma,” jawabku sambil menunjuk
ruang operasi di depan kami berdiri.
“Apa yang
terjadi?” tanya ibuku lagi masih terlihat sangat panik.
“Air
ketubannya habis, jadi janinnya harus dikeluarkan segera. Dokter sedang
melakukan operasi,” jawabku lagi dengan suara yang coba kubuat setenang mungkin untuk mengurangi
kepanikannya.
“Apa?!!!” Ibu mertuaku malah makin histeris.
“Tenang, Bu!
Tenang! Kita doakan saja semoga operasinya berjalan lancar.” Ayah
mertuaku terus saja menenangkan
istrinya itu.
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Sebuah panggilan masuk. Aku pun permisi
kepada mertuaku untuk mengangkat panggilan itu.
Mereka
mengangguk mempersilakan.
Setelah
mengedarkan pandangan ke sekeliling, kuputuskan untuk melangkah ke ujung
lorong yang berseberangan dengan ruang operasi. Sambil terus melangkah, panggilan itu pun
kuterima.
“Gimana kabar Mentari?!” Ibuku bertanya sama paniknya dengan
ibu mertuaku tadi.
“Belum tahu, Mak. Sekarang sedang di ruang operasi.”
“Hah?!
Kenapa bisa sampai dioperasi?!”
“Panjang
ceritanya, Mak.” Jawabku singkat. Memang sulit menceritakan semuanya lewat
telepon dengan kondisiku seperti sekarang.
Terdengar
suara Emak tanpa jeda di telepon. Salah satunya tentu menyalahkan
keteledoranku.
Aku tidak
menjawab sama sekali.
“Ya sudah! Segera
kabari Emak kalau sudah ada hasilnya nanti,” suaranya
terdengar sesegukan di seberang telepon sana.
“Iya, Mak,”
kataku dengan suara
yang kubuat setenang mungkin agar dia tidak semakin
panik.
***
Beberapa jam kemudian salah seorang dokter keluar dari ruang
operasi dan memanggil namaku. Aku pun langsung bergegas menghampiri. Ibu
mertuaku berdiri dari kursi
tunggu, ingin juga ikut mendekat, tapi dilarang oleh ayah mertuaku. Mereka pun tetap menunggu di kursi
itu.
Setelah aku berdiri tepat di hadapannya, dokter yang memanggil tadi langsung
berbicara dengan suara datar dan
tenang.
“Maaf, kami tidak dapat menyelamatkan kedua-duanya,” katanya langsung menyampaikan hasil
operasinya.
“Maksud dokter?” tanyaku belum begitu mengerti maksudnya. Tapi firasatku
mengatakan kalau itu berita sangat buruk. Dadaku kembali
bergemuruh. Darahku kembali memanas.
“Istri Anda
baik-baik saja,” jawab si
dokter sambil tersenyum.
Aku tetap
belum merasa tenang.
“Tapi
putra Anda tidak
tertolong,” lanjutnya dengan suara yang terdengar bersimpati.
Tiba-tiba kepalaku
terasa diputar-putar dan diaduk-aduk. Dunia tidak tahu lagi mana atas mana
bawah. Pandanganku langsung
berkunang-kunang. Tanganku
mulai mencari pegangan untuk menahan tubuhku yang mulai sempoyongan. Saat terpegang kusen pintu di
samping si dokter, langsung kutumpukan tubuh ke situ. Mataku mulai
terasa perih. Detakan jantungku semakin cepat. Darahku sudah mencapai titik
didihnya. Setelah itu, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Hanya teriakan sayup-sayup
yang sempat kudengar kemudian.
“Adipura!
Adipura! Adipura!”
Suara itu terdengar berkali-kali, tapi makin lama makin lemah, sampai kemudian benar-benar hening.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.