Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 6. Harga Sebuah Kebenaran Ilmiah

Halaman Depan > Novel > S.I.P (sekuel novel M.I.T) > Bab 6. Harga Sebuah Kebenaran Ilmiah
___________________________________________

Walaupun eksperimen Mentari seperti main-main, tapi dia tetap menjalankannya secara serius dan disiplin. Di awal-awal eksperimen, dia sudah menuliskan semua prosedur secara rinci dan berurutan. Dia juga telah membuat jadwal ketat, kegiatan apa saja yang harus dilakukan secara rutin setiap harinya. Luar biasanya, sampai sejauh ini, semua jadwal yang telah dibuatnya secara ketat itu dipatuhi dan dikerjakannya dengan penuh kedisiplinan.

Dia memberi makan Lala, Lili, Dodo, dan Didi sesuai jadwal. Dia pun membiarkan Lala dan Lili bermain pada jam yang telah ditentukan. Pada waktu-waktu tertentu, dia melepas secara bebas Lala dan Lili seperti yang telah direncanakan. Bleki dibiarkannya mendekati Dodo dan Didi agar terbuka kemungkinan Dodo jatuh cinta kepada Bleki sesuai dengan yang kutuliskan.

Memang semuanya terlihat aneh. Bahkan kelakuan anehnya itu membuatku harus geleng-geleng kepala. Tapi dia tetap punya alasan yang masuk akal. Katanya, itu semua merupakan konsekuensi dari sebuah rancangan eksperimen. Terpaksa kuanggukkan kepala tanda persetujuan karena memang aku tidak mengerti sama sekali tentang dunianya itu.

Secara ringkas, dia melaksanakan semua rencananya tepat waktu, sesuai urutan, setiap hari, tanpa ada kata bosan sedikit pun. Seumur hidup, tidak pernah kulihat orang sedisiplin dia. Perkiraanku, disiplin tingkat tingginya itu merupakan buah dari pendidikannya selama di Amerika Serikat tempo hari. Mungkin sikap disiplin itulah yang menjadi pembeda Negara super power itu dengan Negara lain di dunia. Sikap disiplin itulah yang kemungkinan besat telah membuat bangsa itu menjadi pemimpin kemajuan peradaban dunia.

Enam bulan setelah menjalankan tiga eksperimen sekaligus, akhirnya istriku mengalami sesuatu yang aneh. Dia tiba-tiba sering mual-mual. Padahal menu makanan kami setiap harinya tidak pernah berubah. Bukannya panik, dia malah senyum-senyum. Aku pun dibuat pusing oleh tingkah anehnya itu.

Rupanya itu adalah sebuah kabar yang sangat menggembirakan. Itu adalah pertanda bahwa sebentar lagi anggota keluarga kami akan bertambah. Dia bakal punya bukti yang tidak diragukan lagi untuk membungkam mulut Bu Romlah yang telah menebar gosip murahan di kompleks perumahan kami. Dia dan aku bisa memiliki anak sendiri karena sekarang dia sedang hamil!

Aku pun bahagia luar biasa. Kelelakianku pun kini tidak perlu diragukan lagi dan telah menjadi sempurna. Kini aku sudah memiliki jawaban pamungkas untuk pertanyaan ibuku yang tak berjeda. Setiap kali beliau menelepon, pertanyaannya selalu sama, “Kapan ibu bisa mengendong cucu?”

Sejak itu, Mentari mulai mengurangi kegiatan di luar rumah. Namun, dia tidak berniat mengambil cuti dari kampus. Enam bulan pertama kehamilannya, dia tetap datang ke kampus. Setelah itu, dia meminta izin untuk melaksanakan kewajiban dari kampus melalui media online saja. Pembelajaran maupun rapat dilakukannya secara daring dari rumah lewat berbagai platform e-learning maupun online meeting.

Semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja. Itu karena dia sudah mempersiapkan diri dengan matang. Dia sudah punya segala macam pengetahuan tentang ibu hamil bahkan sampai persiapan untuk melahirkan.

Sebenarnya aku sangat mencemaskan keadaannya. Aku pernah memintanya untuk tidak lagi direpotkan oleh hewan-hewan eksperimennya. Pernah kuusulkan padanya untuk menyudahi eksperimennya yang tidak jelas manfaatnya itu. Seharusnya dia lebih banyak istirahat untuk menjaga kehamilannya.

Usulanku langsung ditolaknya mentah-mentah. Katanya eksperimen itu sangat penting untuk menenangkan hati dan pikirannya. Dia merasa terganggu kalau sebuah misteri di depan matanya tidak mendapatkan penjelasan dan bukti yang kuat. Lagipula, katanya lagi, semakin banyak dia bergerak, semakin sehatlah kehamilannya.

Seperti biasa, lagi-lagi aku pun kalah berdebat. Sebenarnya lebih tepat dikatakan kalau aku mengalah demi kebaikan bersama. Kubiarkan saja ketika dia

Di bulan ke tujuh, dia tetap semangat dan energik. Tidak ada permintaan aneh-aneh yang diajukannya seperti kebanyakan dilakukan ibu hamil lainnya. Namun di suatu pagi, tidak seperti biasanya, dia tampak tergesa-gesa berjalan ke arah kandang Dodo dan kawan-kawan.

Kenapa, Sayang? Kok tergesa-gesa begitu?” tanyaku penasaran.

“Tari baru ingat kalau hari ini ada seminar internasional yang diselenggarakan secara daring. Tari ditunjuk menjadi pembicara utama. Acaranya sebentar lagi dimulai,jawabnya dengan suara yang juga tergesa-gesa.

“Ya sudah. Biar aku yang memberi makan Lala, Lili, Dodo, dan Didi. Kamu langsung menyiapkan diri saja,timpalku menawarkan bantuan.

Tidak usah. Tari masih sempat, kok. Takutnya orang yang memberi makan mempengaruhi selera makan mereka. Kalau abang yang memberi makan, mereka takutnya malah tidak selera. Hi hi hi, timpalnya masih sempat menggodaku.

“Ya sudah,kataku menanggapi dengan sikap pura-pura tidak peduli.

Aku tetap duduk di meja makan dan kembali mengetik di laptop.

Belum sampai seratus kata aku mengetik, tiba-tiba terdengar teriakannya dari halaman belakang.

Abang!!!” teriaknya dengan suara melengking.

Teriakannya itu langsung membuatku kaget bukan kepalang. Jarang sekali dia memanggil dengan berteriak seperti itu, kecuali kalau sedang marah-marah. Tapi sedari tadi tidak ada tanda-tanda dia sedang marah. Berarti ada kejadian lain?!

Tanpa berpikir panjang, aku langsung berdiri dan berlarian menuju sumber teriakannya. Kekagetanku semakin bertambah ketika terlihat dia sudah tertelentang di dekat kandang Dodo dan Didi.

Lantai tempatnya telentang itu memang dilapisi semen acian dan mulai berlumut. Ditambah pula lantai itu masih basah bekas hujan tadi malam, jadi permukaannya licin. Mungkin karena tergesa-gesa. dia tidak mampu menyeimbangkan badan sehingga terpeleset.

“Tari kenapa?!” tanyaku panik sambil berlari menghampirinya.

“Tari terpeleset, Bang, jawabnya dengan suara tenang.

Rupanya kejadian dan kondisi yang sedang dialaminya tidak membuatnya panik. Dia terlihat tidak berusaha berdiri. Mungkin kondisi kehamilannya membuatnya kesulitan untuk duduk apalagi berdiri. Dibiarkannya saja tubuhnya telentang seperti itu.

Kusorongkan tangan di belakang pundaknya, berusaha membantunya untuk duduk. Tapi rupanya dia tetap kesulitan untuk mengangkat kepala.

Tidak usah, Bang. Leher Tari sakit,jawabnya datar, tanpa merintih kesakitan sama sekali.

Dia kemudian malah berusaha tersenyum. Sepertinya dia tidak ingin membuatku khawatir.

Kusorongkan kedua tanganku sekaligus, satu di bawah leher, satu lagi di bawah pinggangnya, hendak menggendong dan memindahkannya ke kursi sofa panjang yang menghadap ke halaman belakang. Sayangnya, aku tidak sanggup melakukannya. Berat badannya selama hamil naik drastis, mungkin hampir dua kali lipat dari berat badan sebelum hamil. Sewaktu baru menikah saja aku kesulitan menggendongnya, apalagi sekarang.

Jadi gimana?” tanyaku makin panik.

Hubungi Mama dan Papa saja, Bang, timpalnya tetap datar dan tenang. Dia tampak pasrah dengan kondisinya itu.

Aku pun berdiri dan berlarian ke arah meja makan, tempat di mana ponsel kutinggalkan terakhir kali. Dengan tergesa-gesa langsung kuraih ponsel itu. Saking paniknya, bukannya menelepon mertuaku, aku malah menelepon rumah sakit.

“Halo, ada yang bi….”

Belum sempat petugas rumah sakit menyelesaikan sapaan basa basinya, langsung kuinterupsi, “Tolong kirimkan ambulance ke Kompleks Perumahan Gemilang Permai Blok B Nomor 71! Keadaan darurat!”

“Boleh diceritakan keadaan daruratnya seperti apa?”

“Tidak usah banyak tanya dan berbasa basi! Ini terkait nyawa manusia!” bentakku naik pitam.

“Baik, Pak! Mohon ditunggu.”

Tanpa mengucapkan kata-kata penutup, langsung kututup panggilan itu, sebab aku harus menelepon dan memberitahu orang tuaku di kampung dan juga mertuaku. Setelah selesai memberitahu mereka, aku kembali ke belakang rumah, tidak tega membiarkan istriku menunggu lama di sana.

“Tunggu sebentar, ya. Aku sudah minta ambulance ke sini, kataku padanya berusaha menenangkan dengan nada suara penuh kepanikan.

“Lho kok?” tanyanya heran.

Tidak apa-apa. Lebih aman kalau kita ke rumah sakit saja. Takutnya terjadi apa-apa pada kandunganmu,jawabku berupaya menenangkannya sekaligus mengendalikan kepanikanku sendiri.

Setengah jam kemudian terdengar sirine ambulance mendekat.

“Tunggu sebentar di sini, ya, Sayang, ya,” kataku dengan lembut.

Aku berdiri dan bergegas menuju ruang tamu lalu langsung membuka pintu depan. Dua orang laki-laki berbaju serba putih sudah berdiri di depan pintu. Salah satu di antara mereka membawa tandu lipat di tangan kanan.

“Di mana pasiennya?!” Tanya mereka sambil melangkah masuk.

Aku sempat terpana sesaat, sebelum kembali tersadar. Langsung kuajak mereka menuju ke belakang tempat istriku terbaring. Mereka pun mengikuti.

Sesampainya di tempat istriku tergeletak, salah satu petugas langsung menginstruksikan kepada kami seperti apa posisi untuk mengangkat tubuh Mentari ke atas tandu yang sudah terbuka lipatannya. Tidak alasannya bagaimana kami bisa mengangkat tubuhnya yang lumayan berat. Entah kenapa rasanya tenagaku menjadi berlipat-lipat.

Saat tubuh istriku mulai terangkat, terlihat cairan bening mengalir ke lantai dari selangkangannya. Itu tidak terlalu kupedulikan karena kupikir dia tidak dapat menahan kencing.

Setelah tubuh istriku berada di atas tandu, salah satu petugas langsung mendorong tandu ke depan rumah melewati dapur, ruang tengah, dan ruang tamu. Aku ikut mendorong di samping kepala istriku sambil terus menggenggam erat tangannya.

Tak sedetik pun tatapan kuarahkan ke tempat lain. Terus saja kutatap wajah istriku yang tampak mulai mengernyit kesakitan. Tampaknya dia mulai tidak kuat menyembunyikan rasa sakitnya itu.

“Tenang, ya, Sayang,” kataku berbisik, lebih terdengar seperti menenangkan dan menguatkan diri sendiri.

Dua petugas tersebut sangat gesit dan cekatan dalam menjalankan tugas mereka. Sesampainya di bekalang ambulance, salah satu petugas menekan tombol di gantungan kunci mobilnya. Pintu belakang terbuka otomatis. Petugas satunya lagi lalu mendorong tandu ke arah dalam mobil. Entah bagaimana mekanismenya, tandu itu masuk dengan mudah.

Aku menyusul masuk dan duduk tepat di samping istriku. Petugas tadi menutup pintu. Mobil ambulance pun mulai terasa bergerak.

Sepanjang perjalanan, mataku terus menatap istriku sambil mengelus ubun-ubunnya. Kepanikanku kembali muncul setelah dia mulai terlihat lemas. Wajahnya tampak pucat. Dia terus saja mengelus perutnya. Segala macam doa kupanjatkan di dalam hati berkali-kali.

Kami tiba di rumah sakit setengah jam kemudian. Setelah pintu belakang terbuka, tampak dua orang petugas muncul. Mereka langsung menurunkan tandu istriku. Aku ikut turun. Petugas itu mendorong tandu masuk ke ruang Instalasi Gawat Darurat. Aku pun terus mengekor di belakang mereka.

Petugas IGD bekerja dengan cekatan. Aku tidak tahu apa saja yang mereka lakukan karena fokus menenangkan istriku, dan menenangkan diri sendiri.

Setengah jam kemudian seorang perawat memanggilku. Katanya dokter jaga IGD ingin berbicara denganku. Aku pun langsung berdiri dan berjalan cepat menuju meja dokter yang dimaksudkannya.

“Istrimu mengalami pecah ketuban. Setelah diperiksa secara seksama, ternyata air ketubannya sudah habis. Kami terpaksa harus melakukan operasi caesar untuk menyelamatkan janin di dalam kandungannya.” Si Dokter berupaya menjelaskan keadaan sejelas mungkin.

Dadaku langsung bergemuruh mendengar itu. Darahku memanas. “Kenapa ini terjadi padaku,” bathinku dalam hati. Rasanya aku ingin sekali menangis.

Apakah kamu setuju?” tanyanya kemudian.

 “Lakukan saja yang terbaik, Dok!” Aku pun mengiyakan dengan kata-kata yang sangat berat diucapkan.

“Kalau begitu, kamu tandatangani dulu surat persetujuan operasi ini. Kalau mau dibaca dulu silakan.” Dokter itu menyodorkan beberapa lembar kertas ke arahku.

Dari ucapannya, sudah bisa ditebak apa isi surat yang disodorkannya padaku. Tanpa banyak berpikir, langsung kutandatangani surat itu. Kondisi istriku sedang gawat darurat, perlu penanganan segera. Tindakan cepat sangat dibutuhkan saat ini.

“Silahkan hubungi bagian pendaftaran disana untuk mengurus administrasinya.” Si Dokter menunjuk meja di dekat pintu masuk.

Aku mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk si dokter. Di situ sedang duduk dua orang, laki-laki dan perempuan muda, di belakang meja minimalis modern. Mereka tampak sedang melayani seorang ibu muda. Keduanya terus menerus tersenyum dan berbicara dengan tata kata yang indah dan nyaman didengar.

Setelah mengangguk dan mengucapkan terimakasih kepada si dokter, aku pun berdiri dan bergegas menuju meja yang ditunjuknya.

Saat aku mendekat, dua orang yang telah kuamati dari tadi tersenyum ke arahku.

“Silakan,” kata petugas laki-laki mempersilakan duduk.

Aku pun duduk di kursi tepat dihadapan mereka.

“Ada yang bisa kami bantu?” Tanya petugas perempuan.

Langsung kusampaikan maksudku. “Aku hendak mendaftar untuk operasi cesar.”

“Oke baiklah,” timpalnya dengan ramah. Mereka pun langsung melayaniku dengan baik.

Setelah menyelesaikan administrasi dengan dua orang petugas itu, salah satu perawat dari IGD datang menghampiriku.

“Istri Bapak sudah dibawa ke ruang operasi lantai 2. Naiknya lewat sana, Pak,” katanya sambil menunjuk tangga di ujung lorong.

Tanpa menunggu lama, langsung kuarahkan langkah kaki ke arah yang ditunjuk perawat barusan. Aku ingin segera ke ruang operasi. Ingin menunggui Mentari di sana.

***

“Gimana kondisi Mentari?! Dia kenapa?!” Ibu mertuaku yang baru saja tiba langsung bertanya dengan ekspresi penuh kepanikan. Matanya tampak merah dan berair.

Aku tidak langsung menjawab karena menyalami mereka terlebih dahulu.

Ayah mertuaku terlihat lebih tenang sambil merangkul dan menepuk-nepuk pundak ibu mertuaku untuk menenangkan.

Tari sedang di ruang operasi ini, Ma,” jawabku sambil menunjuk ruang operasi di depan kami berdiri.

“Apa yang terjadi?” tanya ibuku lagi masih terlihat sangat panik.

Air ketubannya habis, jadi janinnya harus dikeluarkan segera. Dokter sedang melakukan operasi,jawabku lagi dengan suara yang coba kubuat setenang mungkin untuk mengurangi kepanikannya.

“Apa?!!!” Ibu mertuaku malah makin histeris.

“Tenang, Bu! Tenang! Kita doakan saja semoga operasinya berjalan lancar.” Ayah mertuaku terus saja menenangkan istrinya itu.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Sebuah panggilan masuk. Aku pun permisi kepada mertuaku untuk mengangkat panggilan itu.

Mereka mengangguk mempersilakan.

Setelah mengedarkan pandangan ke sekeliling, kuputuskan untuk melangkah ke ujung lorong yang berseberangan dengan ruang operasi. Sambil terus melangkah, panggilan itu pun kuterima.

“Gimana kabar Mentari?!” Ibuku bertanya sama paniknya dengan ibu mertuaku tadi.

“Belum tahu, Mak. Sekarang sedang di ruang operasi.”

Hah?! Kenapa bisa sampai dioperasi?!”

“Panjang ceritanya, Mak.” Jawabku singkat. Memang sulit menceritakan semuanya lewat telepon dengan kondisiku seperti sekarang.

Terdengar suara Emak tanpa jeda di telepon. Salah satunya tentu menyalahkan keteledoranku.

Aku tidak menjawab sama sekali.

“Ya sudah! Segera kabari Emak kalau sudah ada hasilnya nanti,” suaranya terdengar sesegukan di seberang telepon sana.

“Iya, Mak,kataku dengan suara yang kubuat setenang mungkin agar dia tidak semakin panik.

***

Beberapa jam kemudian salah seorang dokter keluar dari ruang operasi dan memanggil namaku. Aku pun langsung bergegas menghampiri. Ibu mertuaku berdiri dari kursi tunggu, ingin juga ikut mendekat, tapi dilarang oleh ayah mertuaku. Mereka pun tetap menunggu di kursi itu.

Setelah aku berdiri tepat di hadapannya, dokter yang memanggil tadi langsung berbicara dengan suara datar dan tenang.

“Maaf, kami tidak dapat menyelamatkan kedua-duanya,katanya langsung menyampaikan hasil operasinya.

“Maksud dokter?” tanyaku belum begitu mengerti maksudnya. Tapi firasatku mengatakan kalau itu berita sangat buruk. Dadaku kembali bergemuruh. Darahku kembali memanas.

“Istri Anda baik-baik saja,” jawab si dokter sambil tersenyum.

Aku tetap belum merasa tenang.

Tapi putra Anda tidak tertolong,lanjutnya dengan suara yang terdengar bersimpati.

Tiba-tiba kepalaku terasa diputar-putar dan diaduk-aduk. Dunia tidak tahu lagi mana atas mana bawah. Pandanganku langsung berkunang-kunang. Tanganku mulai mencari pegangan untuk menahan tubuhku yang mulai sempoyongan. Saat terpegang kusen pintu di samping si dokter, langsung kutumpukan tubuh ke situ. Mataku mulai terasa perih. Detakan jantungku semakin cepat. Darahku sudah mencapai titik didihnya. Setelah itu, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Hanya teriakan sayup-sayup yang sempat kudengar kemudian.

“Adipura! Adipura! Adipura!”

Suara itu terdengar berkali-kali, tapi makin lama makin lemah, sampai kemudian benar-benar hening.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar