Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 2. Sepahit Kopi Dingin

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan > Bab 2. Sepahit Kopi Dingin

Arvin tampak duduk melamun dengan tatapan kosong ke arah taman di samping rumahnya. Dipecat secara tidak hormat bahkan dikasuskan oleh atasannya sendiri benar-benar membuatnya tertekan dan depresi. Rambutnya sudah tidak pernah lagi disisir rapi. Kulit putihnya berubah menjadi pucat karena keseringan begadang dan tidak teratur makan.

Hidupnya berubah drastis hanya dalam hitungan hari. Tidak pernah terbayangkan olehnya kalau dia akan menghadapi cobaan seperti ini. Memorinya langsung menerawang ke momen makan malam beberapa minggu sebelumnya ketika semuanya masih baik-baik saja. Momen itu mungkin salah satu yang paling membahagiakan dalam hidupnya.

Malam itu langit di luar rumah mulai gelap gulita. Rembulan tidak menampakkan dirinya. Bukan karena malu atau tertutup mega, melainkan karena ia memang sedang berada di titik akhir siklus bulanannya. Kerlap kerlip bintang pun tak mampu mengusir pekat yang hadir setelah senja. Namun, kegelapan malam hanya terjadi di luar. Tidak berlaku di dalam rumah. Arvin dan keluarganya tetap merasakan terangnya cahaya. Bukan hanya karena lampu yang menyala di setiap sudut rumah. Melainkan juga karena suasana hati mereka yang senantiasa ceria.

Rumah tipe 120 berlantai dua dan bergaya modern minimalis itu terletak di sebuah kompleks perumahan di pinggiran ibukota. Penghuninya tidak banyak, hanya empat orang, yaitu Arvin sendiri sebagai kepala keluarga, Karin istrinya, dan kedua putri mereka, Vania dan Widya. Keharmonisan mereka benar-benar menjadi cahaya yang mampu menerangi rumah lebih dari lampu paling terang di dunia sekalipun.

Salah satu kebiasaan yang selalu mereka lakukan untuk menjaga tautan hati adalah makan malam bersama. Mereka selalu berusaha untuk hadir di meja makan setiap malamnya. Mereka bisa saling bercerita, saling berbagi, hingga saling memberi pendapat atau saran. Widya, si bungsu, pernah menangis tersedu-sedu menceritakan temannya yang usil sehingga membuat yang lainnya kebingungan. Tapi ujung-ujungnya malah membuat mereka tertawa terbahak-bahak karena alasannya yang aneh dan sepele. Di lain waktu, mereka juga bisa tertawa ceria mendengar cerita lucu Arvin. Atau mereka sering pula mengharu biru menyimak cerita Karin yang selain sebagai guru juga sebagai pendongeng dan penulis novel. Satu-satunya yang tampak kalem adalah Vania, si sulung.

Suasana damai dan harmonis itu dapat terwujud karena sikap demokratis Arvin sebagai pemimpin keluarga. Dia memberi kesempatan bagi semuanya untuk menyatakan pendapat dan mengekspresikan diri secara terbuka. Dia pun tidak pernah neko-neko. Hidupnya teratur, disiplin, dan lurus.

Malam itu, dia dan Karin secara bergantian ingin menyampaikan kabar gembira. Setelah semuanya menghabiskan makanan di piring masing-masing, Widya langsung menagih kabar gembira itu.

“Hayuk! Papa dan Bunda! cepatan sampaikan kabar gembiranya,” katanya langsung memecah kesenyapan.

Panggilan Widya pada kedua orang tuanya yang kurang klop itu ada alasannya. Karin bukan ibu kandung Widya dan Vania sehingga Karin mendapat panggilan Bunda. Sementara panggilan Mama yang biasanya bersanding dengan panggilan Papa diberikan kepada ibu kandung mereka yang meninggal sepuluh tahun lalu, ketika melahirkan Widya, saat Vania baru berusia enam tahun.

Arvin terdiam sejenak. Dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangan satu sama lain sebelum berbicara.

“Papa diangkat menjadi Wakil Presiden Direktur di QDC,” katanya antusias sambil tersenyum semringah. Tampak kebahagiaan luar biasa terpancar dari raut wajahnya.

“Wowww!!!” Karin, Vania, dan Widya berteriak histeris secara bersamaan.

“Itu lebih tinggi dari jabatan Papa sebelumnya?” tanya Widya polos.

“Sebenarnya Papa selama ini tidak punya jabatan di perusahaan. Hanya sebagai tenaga ahli. Sekarang Papa baru punya jabatan khusus. Papa sekarang harus ikut mengelola perusahaan. Pekerjaan Papa sebagai tenaga ahli memang masih berlaku. Hanya saja sekarang pekerjaan itu ditambah dengan jabatan baru ini. Pekerjaan Papa jadinya makin banyak,” kata Arvin sambil garuk-garuk kepala.

“Semangat, Papa!” ujar Karin langsung menyemangati suaminya.

“Semangat, Papa! Semangat! Semangat! Semangat!” Widya ikut menyemangati.

“Sudah itu saja kabar dari Papa,” kata Arvin sambil kembali tersenyum.

Widya dan Vania langsung beranjak dari kursi dan mendekati Arvin. Mereka berdua memeluk Arvin dengan erat sambil mencium pipi kanan kirinya. Setelah puas berpelukan, mereka kembali ke kursi masing-masing. Sementara Karin menatap dengan tatapan penuh haru dari tempat duduknya. Matanya berkaca-kaca menyaksikan pemandangan indah itu.

“Sekarang giliran kabar dari Bunda,” kata Widya dengan penuh antusias sambil menatap Karin.

Karin yang mengenakan baju daster longgar dan panjang hingga ke mata kaki langsung berdiri dan tersenyum lebar. Senyumnya terlihat sangat manis sehingga membuat kecantikan alaminya semakin memancar. Senyum itu pula yang dulu meluluhkan hati Arvin. Senyum yang berasal dari hati yang tulus itu tidak pernah membosankan. Biasanya rambut panjangnya itu tertutup jilbab. Namun karena berada di dalam rumah, hanya dilihat oleh suami dan anak-anaknya, dibiarkannya saja rambut itu terurai menutupi bahu.Setelah terdiam cukup lama, dia pun menyampaikan kabar gembira darinya.

“Kalian...” katanya sambil menatap Vania dan Widya secara bergantian. Dia tampak terpaku cukup lama dengan mata berbinar-binar. “Kalian sebentar lagi punya adik!” katanya histeris sambil terus menatap Vania dan Widya. Senyumnya terus menerus terkembang.

Suasana sempat hening sejenak. Arvin, Vania, dan Widya tidak langsung menanggapi. Mereka malah memasang ekspresi datar. Entah itu karena mereka kurang senang mendengarnya atau hanya mencoba mengerjai Karin.

“Lha? Kok? Kalian terlihat tidak begitu senang?” Karin tampak syok. Tadinya dia menganggap kabar yang akan disampaikannya akan mendapat sambutan meriah. Mereka akan bahagia mendengarnya. Tapi ternyata ….

Keheningan itu tidak berlangsung lama. Mereka bertiga akhirnya berteriak histeris, lalu bersorak gembira.

“Horeee!!! Horeee!!! Horeeee!!” teriak Widya paling kencang dengan wajah penuh keceriaan.

“Kalian tadi mengerjai Bunda, ya? Bunda pikir kalian tidak senang,” kata Karin dengan tampang agak cemberut.

“Maaf, Bunda. He he he…” balas Widya masih dengan nada suara penuh kebahagiaan.

Setelah agak tenang, mereka semua sama-sama mengucapkan, “Alhamdulillah!”

“Yeeeeeyy! Yeeeyyyyy! Yeeeeyyyyyy!!! Aku punya adek!!! Yeeeyy! Yeeeyyy! Yeeeeyyy!!!” teriak Widya belum juga berhenti.

Dari tadi Widya paling histeris. Mulutnya masih saja menganga takjub seperti tidak percaya dengan kabar itu. Entah kenapa, dia tidak suka menjadi anak bungsu. Dia sering berdoa agar segera diberi adik. Kini doanya benar-benar terkabul. Dia bahkan kehabisan cara untuk mengekspresikan kebahagiaannya.

“Selamat ya Bunda,” kata Vania tidak sehisteris Widya. Mungkin karena sudah masuk SMA, dia tampak malu untuk bersikap berlebihan seperti adiknya. Dia lalu berdiri dari kursi dan berjalan menghampiri bundanya. Dibungkukkannya badan untuk mencium perut Karin. Karin memeluk kepala putri sambungnya itu dengan erat. Diciumnya ubun-ubun Vania dengan begitu mendalam.

Bola mata Arvin tampak berbinar-binar mendengar kabar itu. Sudah lama dia mengharapkan kehadiran teman laki-laki di rumah ini. Dia tidak ingin terus-terusan menjadi orang terganteng di rumah. Kalau harapannya terwujud, dia akan memiliki teman bermain sepakbola di PS yang telah menganggur lebih dari lima tahun.

Secara bergantian, Arvin dan Widya berdiri dari kursi masing-masing, lalu menghampiri dan bergabung dengan Vania memeluk Karin sambil sekali lagi mengucapkan selamat.

Tapi momen bahagia malam itu tidak berlangsung lama. Beberapa hari kemudian semuanya berubah seratus delapan puluh derajat. Sebuah peristiwa yang sangat memalukan meluluhlantakkan semuanya. Ketidakmampuan Arvin mengendalikan diri ketika sedang bersama Angela, bos tertinggi di kantornya, benar-benar telah menghancurkan segalanya. Hanya dalam hitungan hari, dia kehilangan jabatan yang belum lama ditempatinya sekaligus juga kehilangan pekerjaannya. Kini dia pun terancam kehilangan keluarga mungilnya. Dia terancam kehilangan segalanya.

Saat ini, penyelidikan kasus pelecehan yang dituduhkan atasannya itu kepadanya baru saja bergulir. Proses itu mungkin akan memakan waktu cukup panjang. Apalagi peperangan ini akan melibatkan dua tim kuasa hukum andal di kedua belah pihak. Angela tidak pernah main-main dengan tuntutannya. Dia telah menyiapkan tim pengacara terbaik di ibu kota. Tim itu terdiri atas beberapa pengacara hebat dari beberapa firma hukum kelas atas.

Sebenarnya Arvin tidak perlu merasa khawatir secara berlebihan. Dia akan dibantu oleh tim pembela yang juga tidak kalah hebatnya. Miranda yang mengetahui kasus yang menghebohkan itu sempat pulang ke Jakarta beberapa hari yang lalu. Dia sudah mengkoordinir tim pembela yang tidak kalah mumpuni yang dikomandoi oleh salah satu pengacara yang sangat berpengalaman di ibu kota, yaitu Prof. Dr. Fahmi Sastrodiharjo, SH, MH. Kata pengacara kawakan itu, kemungkinan besar dia bisa memenangkan kasus Arvin setelah mempelajari semua bukti yang ada.

Bagaimanapun, ucapan pengacara senior itu belum mampu menenangkan hatinya. Dia mungkin saja dapat terhindar dari jeruji besi penjara. Namun dia kini sudah merasakan jeruji yang lebih menyiksa. Jeruji itu ada di rumahnya sendiri. Rumah yang selama ini selalu ceria dan dipenuhi canda tawa, kini berubah menjadi muram, sunyi, dan sepi laksana di dalam peti mati. Karin dan Vania memang tidak lagi mengurung diri seharian penuh di kamar. Tapi mereka masih tetap bungkam tak mau berbicara, meskipun sekedar bertegur sapa.

Taman samping rumah inilah yang sekarang menjadi penghiburan bagi Arvin. Dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam duduk termenung di teras yang menghadap ke taman. Hari masih pagi, tapi wajahnya sudah kusut dan penuh kerutan. Kopi yang baru saja dibuatnya sendiri masih tak tersentuh. Kepulan uap kopi itu sudah lama menghilang.

Dipecat dan dilaporkan ke pihak berwajib oleh atasan, kemudian diabaikan keluarga sendiri merupakan hukuman yang sempurna tapi terasa tidak adil baginya. Dia merasa kesalahannya tidak layak mendapat hukuman sebesar ini. Hingga kini dia belum tahu obatnya, belum tahu pula solusinya.

Hal yang paling ditakutinya adalah masalah ini dapat mengganggu keharmonisan bahkan mungkin mengancam keutuhan rumah tangganya. Memang sampai sejauh ini Karin belum terlihat akan mengajukan keinginan, tuntutan, atau gugatan tertentu seperti tuntutan berpisah atau bercerai. Namun, Arvin tetap merasa khawatir. Dia sangat takut kalau istrinya itu sampai berpikiran demikian.

Kalau saja itu sampai terjadi, tidak ada lagi fondasi yang dapat mempertahankan keharmonisan rumah tangga mereka. Tidak ada lagi penopang kebahagiaan hidup yang senantiasa dirasakannya. Hal itu juga akan berdampak besar bagi kedua putrinya. Dia tahu mereka berdua sangat menyayangi Karin. Kehilangan Karin kemungkinan besar akan menjadi pukulan yang sangat berat bagi mereka. Bahkan mungkin itu akan berdampak bagi masa depan mereka berdua.

Dia menduga, salah satu pertimbangan kenapa istrinya tidak membahas tentang perceraian adalah karena janin di rahimnya. Menurut perhitungan kasar, janin itu kini hampir memasuki usia enam bulan. Karin tidak mungkin membiarkan janin itu hadir ke dunia tanpa ayah. Walaupun dia juga ragu apakah janin itu nanti bisa menerima ketika mengetahui ayahnya pernah melakukan kesalahan yang sangat memalukan.

Makin dalam Arvin memikirkan itu, makin besar beban dan tekanan yang dirasakannya. Dia langsung teringat dengan kopinya yang sudah dingin di atas meja. Diangkatnya gelas berisi kopi itu lalu diseruputnya hingga tinggal setengah gelas. Wajahnya langsung mengernyit karena rasanya sangat pahit, tidak ada manis-manisnya sama sekali. Setelah diingat-ingatnya, rupanya tadi dia lupa menambahkan gula. Kalau mau ditambahkan sekarang juga percuma, gulanya akan sulit larut. Dia pun merasa kalau kopi pahit itu sangat identik dengan hidup yang sedang dihadapinya.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar