Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Sebelum turun ke lantai dasar kantor, Miranda sempat ke kamar kecil di dekat elevator. Dia mencuci tangan sambil memeriksa riasan. Meskipun sudah kepala tiga, tapi wajah cantiknya mampu menutupi usia sebenarnya. Dia masih tampak sangat anggun dengan riasan simpel. Rambutnya tertata rapi walau tidak terlalu mengikuti tren saat ini.
Saat bercermin itulah dia langsung teringat dengan pesan misterius kemarin. Dia langsung menoleh ke arah jam dinding yang menempel di atas pintu masuk ruang kerjanya. Jarum pendek jam itu hampir menyentuh angka satu, sementara jarum panjangnya baru saja melewati angkat enam. Artinya tinggal setengah jam lagi waktu yang disebutkan si pengirim pesan akan tiba. Memang kemarin dia tidak menjawab apakah akan datang atau tidak. Tapi sepertinya si pengirim pesan sangat serius dengan niatnya yang ingin bertemu. Bisa saja sekarang dia sudah datang ke tempat yang disebutkannya itu.
Rasa penasaran terhadap keanehan suaminya kembali menyeruak di pikiran Miranda. Bahkan rasa itu berhasil mengalahkan ketakutannya terhadap si pengirim pesan. Apalagi semalam suaminya juga tidak pulang ke rumah tanpa pemberitahuan sama sekali. Kecurigaannya pun semakin menjadi-jadi. Rasa penasarannya tentang apa sebenarnya yang sedang terjadi semakin meluap-luap. Jika tidak dicarikan jawabannya, bisa saja dia mati penasaran.
Akhirnya, dia pun memutuskan untuk menemui si pengirim pesan misterius. Lagi pula, kalau si pengirim pesan memang mantan pacar suaminya, dia lebih leluasa untuk memperingatkannya secara langsung, agar tidak lagi mengganggu pernikahan dan rumah tangganya. Jika orang yang diduganya perempuan itu tetap ngotot, dia bisa saja menyampaikan ancaman akan mengadukan ini kepada penegak hukum karena telah mengganggu ketenangan hidup dirinya.
Setelah selesai merapikan diri, Miranda langsung turun ke lantai dasar, berjalan cepat ke arah parkiran, dan meninggalkan parkiran itu menggunakan mobil menuju kafe Southwest Beach yang disebutkan si pengirim pesan misterius. Mobil yang dikendarainya meluncur dengan kecepatan 60 km/jam di jalan dua jalur yang terlihat lengang. Sekitar sepuluh menit kemudian dia pun tiba di lokasi. Diparkirkannya mobil agak jauh dari kafe karena bahu jalan tepat di depan kafe sudah dipenuhi mobil lain. Pengunjung kafe tampak sedang ramai karena memang sedang jam makan siang.
Setelah melewati pintu masuk, Miranda langsung memilih tempat duduk di bagian tengah yang suasananya lebih ramai, untuk berjaga-jaga. Dia tetap harus waspada. Meja tempat duduknya tidak terlalu besar, hanya terdapat dua buah kursi. Dia duduk di salah satu kursi yang menghadap ke arah jendela kaca. Dari situ dia dapat leluasa mengamati orang-orang yang hendak masuk ke kafe.
Dia baru saja hendak mengetik pesan kepada si pengirim pesan ketika tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki dari arah belakang.
"Menunggu seseorang, Mbak?" tanya laki-laki itu.
Miranda langsung menoleh. Tampak seorang laki-laki tampan berbadan kekar telah berdiri tepat di samping mejanya. Otot-otot tubuhnya tampak jelas karena dia mengenakan kaos oblong tipis warna putih. Wajahnya dihiasi kumis dan berewok tipis. Dengan penampilan seperti itu, dia terlihat sangat maskulin.
"Iya." Miranda pun menjawab sesantun mungkin. Senyum indah sempat diukirnya di bibir sebagai wujud keramahan khas Indonesia.
Dari wajah dan bahasa yang digunakannya tadi, dapat dipastikan kalau laki-laki itu juga berasal dari Indonesia. Tidak salah kalau Miranda bersikap ramah. Walau dia sering bertemu orang Indonesia, terkadang dia kurang terlalu antusias karena sebagian dari mereka malah lebih suka iseng dan main-main. Makanya dia juga kurang terlalu antusias dengan laki-laki yang sedang berdiri di samping mejanya saat ini.
"Sudah membuat janji sebelumnya, ya?" tanya laki-laki itu masih dalam posisi berdiri di tempatnya semula.
Miranda mulai merasa sedikit tidak nyaman. Dia hanya mengangguk.
"Janjinya lewat pesan WA, ya?" tanya si laki-laki lagi.
Miranda tampak mulai sedikit jengkel. Dia lalu memasang ekspresi kesal. Dijawabnya pertanyaan si laki-laki dengan agak judes, "Iya!" jawabnya pada si lelaki. Dia berharap laki-laki itu menyadari bahwa dia mulai tidak nyaman dengan apa yang sedang dilakukan si lelaki.
"Aku duduk, ya," kata si laki-laki yang kemudian langsung duduk tanpa menunggu dipersilakan.
"Maaf, Mas. Kursi itu sudah ada orangnya. Sebentar lagi dia datang," kata Miranda buru-buru mengingatkan. Dia mulai merasa sangat risi dengan laki-laki yang kini sudah duduk anteng di depannya tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Memangnya Mbak sudah tahu orang yang mau duduk di kursi ini?" tanya si laki-laki sambil menyeringai aneh seperti meremehkan.
"Mas jangan membuat saya marah, ya! Silakan tinggalkan saya sendiri! Saya ada janji dengan orang lain!" teriak Miranda yang mulai naik pitam.
"Tidak usah terbawa emosi seperti itu, Mbak. Santai saja. Tidak ada orang lain yang akan duduk di sini. Sayalah yang membuat janji dengan Mbak lewat WA kemarin," jawab si laki-laki dengan santai tapi tegas, masih memasang ekspresi anehnya.
"Bukan, Mas! Saya tidak sedang menunggu laki-laki seperti sampean. Saya sedang menunggu seorang wanita!" jawab Miranda mulai memanas melihat si laki-laki di hadapannya semakin tidak sopan.
"Dari mana Mbak yakin kalau yang mengirim pesan itu seorang wanita? Bukankah Mbak tidak pernah mengangkat telepon saya kemarin?" Laki-laki itu kembali menyeringai meremehkan.
Emosi Miranda makin memuncak. Tapi dia urung meluapkan itu karena apa yang disampaikan si laki-laki persis seperti yang dialaminya kemarin. Dari mana laki-laki ini bisa tahu semua hal tentang pesan kemarin? tanyanya dalam hati.
Miranda tidak menanyakan itu. Dia malah bertanya tentang hal lain, "Maunya sampean apa, sih?!"katanya hampir berteriak.
"Aku ingin menceritakan rahasia seperti yang kujanjikan dalam pesan kemarin," jawab si laki-laki dengan penuh percaya diri.
Miranda tampak berpikir keras. Karena laki-laki di hadapannya mengetahui semua hal tentang pesan-pesan kemarin, kemungkinan besar memang laki-laki inilah yang mengiriminya pesan. Dia pun mulai mengatur nafas untuk menenangkan diri. Setelah merasa cukup tenang, beberapa saat kemudian dia mulai mengajukan pertanyaan dengan nada suara yang terdengar lebih datar,
"Mas siapanya suamiku? Kok yakin betul tahu rahasia suamiku? Seingatku, suamiku tidak pernah menceritakan kalau dia punya teman seperti sampean."
"Aku lebih dari sekedar teman suamimu. Aku adalah rahasia terdalam suamimu," balas si laki-laki masih menyeringai aneh.
Kening Miranda langsung mengerut sangat dalam, mencoba memikirkan maksud dari ucapan laki-laki itu barusan.
Tidak menunggu tanggapan dari Miranda, si laki-laki misterius langsung melanjutkan, "Semenjak menikah denganmu, Robert banyak berubah. Dia mulai melupakan ikrarnya yang sudah kami jaga selama sepuluh tahun ini. Dia seolah-olah telah lupa dengan ikrar itu. Dia seperti mulai menjauh. Dia selalu beralasan ketika diajak bertemu. Tidak seperti dulu."
Miranda tampak kebingungan dengan maksud ucapan laki-laki di hadapannya. Ikrar apa yang dimaksud si lelaki. Dia sempat berpikir kalau laki-laki ini adalah kakak dari wanita yang mungkin telah ditinggalkan Robert.
Sementara laki-laki itu tidak melanjutkan ucapannya. Dia menatap sinis ke arah Miranda, tampak sedang menunggu tanggapan.
Akan tetapi Miranda masih tidak menanggapi. Dia tampak berpikir keras siapa sebenarnya laki-laki ini. Apa sebenarnya hubungannya dengan Robert. Apa maunya. Sempat terpikir olehnya ingin menanyakan semua itu satu per satu. Dia ingin mengonfirmasi dugaannya kalau laki-laki ini adalah seorang kakak yang sedang merasa kecewa karena adik atau kakak perempuannya ditinggalkan atau mungkin dikhianati oleh Robert. Tapi kemudian dia mengurungkan niat itu. Tidak ada gunanya dia menggali masa lalu.
Pada akhirnya dia hanya memberi pernyataan sekaligus pertanyaan bernada sinis langsung ke pokok persoalan, "Sudahlah, Mas! Jangan ngomong sembarangan! Sebenarnya Mas ini mau apa dari saya?!" ujarnya.
"Tinggalkan Robert! Dia milikku! Selamanya!" teriak laki-laki itu. Tampang tenang dan aneh yang tadi ditunjukkannya langsung berubah drastis. Kini tampang itu terlihat sangat sangar dan menakutkan. Seringainya mendadak menghilang, berganti dengan raut penuh kebencian, kemarahan, sekaligus kebengisan. Raut wajah itu khas milik orang yang sedang dilanda amarah luar biasa. Dia seperti ingin mencekik Miranda saat itu juga.
Miranda langsung tersentak kaget. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Darahnya mengalir deras. Keringatnya bercucuran. Wajahnya pucat pasi. Kepalanya langsung berdenyut-denyut. Sekujur tubuhnya seketika memanas seolah-olah terbakar. Bukan hanya tampang sangar laki-laki itu yang membuatnya ketakutan luar biasa, tapi juga pernyataan anehnya. Ketakutannya bertambah berkali-kali lipat ketika pikirannya langsung menerawang ke hal-hal aneh yang tidak pernah terbayang sebelumnya. "Jadi Robert adalah seorang ..." katanya tercekat, tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.