Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pagi ini Arvin masih tampak kusut. Dia duduk sendirian di kursi yang sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Tatapannya kosong ke arah kolam ikan tepat di depannya. Kolam itu berukuran satu kali dua meter berdinding kaca pada sisi depannya, dan berlatar belakang pagar setinggi tiga meter. Berbagai jenis ikan hias tampak hilir mudik di balik dinding kaca. Sebagian kecil ikan bermain di bawah pancuran buatan setinggi satu meter yang meluncur di sela-sela tanaman paku. Ikan-ikan lainnya berenang di sela bebatuan besar di dasar kolam yang terlihat jelas dari tempat Arvin duduk.
Di atas kolam, bergelantungan tanaman Dischidia geri dari puncak pagar yang berbaris rapi dari sisi paling kiri pagar sampai ke sisi paling kanan. Tanaman itu muncul dari lubang-lubang pada pipa berdiameter empat inchi yang melintang secara horizontal di puncak pagar. Jarak antar lubang sekitar sepuluh meter sehingga tanaman itu hampir menutupi seluruh permukaan pagar. Di pagar yang sama menempel dan menjalar pula tanaman Daun Dollar yang tumbuh menjalar dari samping kiri dan kanan kolam. Tanaman itu kini juga hampir memenuhi seluruh permukaan pagar yang dilapisi batu alam berwarna abu-abu.
Sesekali Arvin mengalihkan tatapan ke arah berbagai jenis keladi yang tumbuh di samping maupun di depan kolam. Sebagian besar daun keladi-keladi itu mulai layu. Sepertinya karena sudah lama tidak disiram. Biasanya Karin yang melakukannya. Tapi rutinitas itu sudah berhenti sejak kasusnya mengemuka. Arvin sendiri tidak berminat untuk menyiramnya sekarang.
Rumput liar tampak mulai tinggi dan memenuhi sebagian besar halaman samping rumah. Rumput itu mulai menjadi pertanda jelas kalau halaman luas nan indah itu sudah mulai tidak terawat. Dapat dipastikan itu karena perempuan yang selalu merawatnya setiap hari sedang mengurung diri di kamar. Semenjak pertengkarannya dengan Arvin beberapa hari yang lalu, Karin tidak pernah lagi muncul ke halaman samping. Dia belum ingin melihat suaminya.
Dia terlonjak kaget ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Diliriknya layar ponsel. Nama Wisnu tertera di sana. Itu adalah teman kuliahnya sewaktu menempuh pendidikan sarjana di Surabaya dulu. Keningnya langsung berkerut. Sebuah pertanyaan langsung terlintas di pikirannya. Kenapa Wisnu tiba-tiba menghubungi, setelah beberapa tahun mereka tidak pernah berbagi kabar.
"Halo!" kata Arvin lesu setelah menekan tombol terima.
"Hai! Bro! Apa kabar?!" timbal Wisnu dengan suara menggelegar, terdengar sangat bersemangat.
"Tidak benar-benar baik. Namun yang pasti masih hidup dan masih sehat," jawab Arvin masih terdengar lesu.
"Aku membaca berita tentang video itu. Itu benar kau, Bro?" tanya Wisnu dengan nada simpatik.
"Iya," jawab Arvin singkat.
"Aku tidak akan bertanya lebih jauh tentang video itu. Itu urusan pribadimu. Aku hanya ingin menyampaikan kalau aku turut prihatin atas semua masalah yang kau alami saat ini." Nada simpatik masih terasa dari ucapan Wisnu barusan.
"Terima kasih banyak, Kawan."
"Kabarnya kau juga dipecat, ya, Bro?" tanya Wisnu terdengar sedih.
"Ya, begitulah." Nada lesu juga masih terasa dari suara Arvin.
"Sayang sekali, ya. Aku tidak habis pikir mereka malah mengambil tindakan sebodoh itu."
Arvin tampak tersenyum kecil mendengar ucapan sahabatnya itu. "Kau tidak usah berusaha menghiburku. Aku baik-baik saja."
"Aku berkata jujur, Bro. Kau adalah salah satu atau mungkin satu-satunya orang paling jenius yang pernah kukenal. QDC sangat bodoh jika melepasmu begitu saja," kata Wisnu langsung menimpali dengan suara meyakinkan.
"Tidak usah terlalu berlebihan," kata Arvin mulai terlihat lebih tenang.
"Kau masih saja seperti dulu, rendah hati."
"Iya, deh. Terima kasih. He he." Kini Arvin sudah bisa terkekeh.
"He he." Wisnu ikut terkekeh.
Setelah hening sejenak, Arvin yang memulai lagi obrolan. "Bagaimana dengan bisnismu?"
"Alhamdulillah lancar, Bro. Tapi perkembangannya lambat, belum sesuai harapan. Aku kehabisan akal untuk membuatnya lebih berkembang. Tapi mungkin hanya segitu batas kemampuanku."
"Dinikmati saja. Setidaknya kau punya pekerjaan. Tidak menjadi pengangguran sepertiku, he he." Arvin kembali terkekeh.
"Kalau kau itu pengangguran berkualitas, Bro. Tinggal mengajukan lamaran ke beberapa perusahaan, mereka akan saling sikut memperebutkanmu."
"Bisa jadi, he he he," timpal Arvin terdengar bercanda. "Bagaimana kalau aku melamar ke perusahaanmu saja?"
"Jangan menyindir dan menghina seperti itu, Bro! Mana sanggup aku menggajimu." Wisnu lalu tertawa terbahak-bahak.
"Sesama teman, berapa saja deh, he he."
"Membayangkannya saja aku belum sanggup, Bro," timpal Wisnu sambil kembali tertawa.
Arvin juga ikutan tertawa.
"Jadi apa rencanamu selanjutnya?" tanya Wisnu lagi. "Jangan bilang kau benar-benar ingin bekerja denganku."
"Kalau kau membuka lowongan, apa salahnya aku mencoba melamar, he he." Arvin masih saja menggoda temannya itu.
"Janganlah, Bro. Itu hanya akan menjadi beban pikiranku, he he."
Setelah ikut terkekeh, Arvin pun berkata dengan serius. "Sepertinya aku ingin mengubah mindset. Aku ingin berhenti bekerja pada orang lain. Tidak ada jaminan aku akan tetap bekerja hingga tua. Seperti apa lagi aku mengabdi di QDC. Itu sudah kulakukan secara maksimal. Nyatanya tetap dipecat juga."
Wisnu langsung menanggapi dengan penuh semangat. "Aku setuju denganmu. Itulah kenapa kemarin aku memilih untuk merintis usaha sendiri, alih-alih bekerja pada orang lain. Bahkan, walau tidak sejenius dirimu, aku pernah ditawari perusahaan besar untuk bergabung dengan mereka. Aku menolaknya mentah-mentah, he he."
"Kau sudah memilih pilihan yang tepat. Sebentar lagi, aku akan mengikuti jejakmu," kata Arvin juga terdengar serius.
"Mantap, Bro! Kalau orang sejenius dirimu merintis usaha, aku yakin akan cepat sukses dan maju, layaknya dedengkot big tech dunia sekelas Bill Gate, Steve Job, Mark Zuckerberg, Larry Page, Jeff Bezos atau Elon Musk," balas Wisnu penuh semangat.
"Kau masih tidak berubah. Masih suka lebay!" timpal Arvin kembali terkekeh.
"Ke-lebay-anku selalu sesuai kenyataan, Bro. Terutama kalau terkait denganmu. Aku tidak pernah melebih-lebihkan. Kau memang spesial. Hanya saja selama ini kau cenderung kurang mau mengoptimalkan potensi diri. Menurutku, QDC telah menghambatmu mengeluarkan potensi terbaikmu. Mereka hanya memanfaatkan hal-hal yang dibutuhkan saja pada dirimu. Dan kau sendiri sepertinya sering merasa cepat puas."
"Sejak kapan kau menjadi psikolog? Analisa kepribadian yang kau sampaikan benar-benar rinci," kata Arvin kembali menggoda. "Harus kuakui pula, itu semua tepat, he he," lanjutnya kemudian.
"Ha ha ha... jangan begitu, Bro!" Terdengar suara Wisnu terbahak-bahak di telepon.
Setelah diam agak lama, dia kembali melanjutkan, "Jadi kapan kau mau mulai merintis usaha? Dalam bidang apa? Kalau butuh diskusi, hubungi saja aku. Siapa tahu temanmu yang biasa-biasa saja ini masih bisa membantu."
"Aku belum memikirkan akan merintis usaha apa. Masih ada urusan penting lain yang harus diselesaikan terlebih dahulu," kata Arvin kembali serius.
"Baiklah kalau begitu. Semoga urusanmu itu dimudahkan dan dilancarkan, ya, Bro. Tetap semangat pokoknya. Kapan-kapan aku akan main ke rumahmu. Rasanya aku juga masih butuh nasehat dan pendapat pakar sepertimu untuk pengembangan usahaku yang masih saja mentok hingga kini."
"Oke. Boleh. Beritahu saja kalau mau mampir ke sini," balas Arvin ramah.
"Oke. Siap. Sudah, ya, Bro! Silakan lanjutkan merenungkan usaha barumu."
"Oke. Terima kasih sudah berkenan menelepon."
"Iya. Sama-sama."
Telepon itu pun ditutup. Arvin tampak sedikit lebih bersemangat.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.