Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
"Hai!" tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki dari belakang Vania yang sedang duduk sendirian di bangku kayu panjang di belakang kelas.
Vania tampak sedikit kaget. Secara refleks dia langsung menoleh walaupun dia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Ekspresi jengkel langsung terlukis jelas di wajahnya karena laki-laki itu adalah orang yang paling tidak disukainya di sekolah ini. Sikap dan tingkahnya sangat menyebalkan sejak pertama kali mereka bertemu di awal masuk sekolah.
Laki-laki itu bernama Bima. Tampangnya tampan dan imut serta terlihat baik, namun perilakunya tidak. Dia bisa dikategorikan sebagai siswa nakal karena sering mengganggu siswa lain. Korban utamanya adalah Vania. Ada saja ide isengnya untuk mengganggu Vania. Tiada hari yang dilalui Vania tanpa diisengi Bima. Itulah yang membuat Vania sangat jengkel padanya hingga detik ini.
"Kenapa kamu sendirian di sini?" tanya Bima dengan suara lembut. Senyum tulus langsung terukir di bibirnya. Sikapnya sekarang jauh bertolak belakang dengan apa yang sering dilakukannya selama ini.
Vania menatap curiga ke arah laki-laki itu. "Lagi suka saja," jawabnya singkat dengan nada suara agak judes.
"Rasanya baru-baru ini saja kamu suka menyendiri di sini. Masih kepikiran dengan omongan siswa lain tentang ayahmu, ya?" tanya Bima lagi. Raut wajahnya terlihat lebih serius daripada biasanya.
Vania tidak langsung menanggapi. Dia bergeming sambil menatap ke arah kolam berukuran lapangan tenis di hadapannya. Di sekitar kolam terdapat taman kecil berisi beranekaragam jenis bunga. Di seberang kolam terdapat tembok setinggi dua setengah meter yang menjadi pembatas sekolah dengan pemukiman warga di sebelah utara. Saat ini dia duduk di bangku panjang berwarna cokelat bermuatan empat orang yang berada di bawah pohon mahoni.
"Kenapa kamu mengikutiku sampai ke sini?" Bukannya menjawab pertanyaan Bima, Vania malah balik bertanya.
"Penasaran saja," jawab Bima pendek. "Boleh aku duduk juga di sini?" tanyanya kemudian.
Bima langsung duduk di ujung kiri kursi tanpa menunggu tanggapan Vania terlebih dahulu.
Vania lagi-lagi tidak menjawab. Dia hanya menggeser duduknya menjauh dari Bima sampai badannya mentok di tepi sebelah kanan bangku. Posisi duduk berjarak seperti itu semakin menampakkan kalau mereka memang sedang bermusuhan.
Vania sudah tidak peduli lagi dengan laki-laki itu. Terserah dia mau melakukan apa. Sikap menyebalkan Bima sudah tidak mempan lagi baginya. Kini dia sedang menjalani hidup yang jauh lebih berat daripada sekedar diganggu laki-laki di sampingnya ini.
"Maafkan aku ya kalau selama ini sering membuatmu kesal," kata Bima terdengar tulus.
Vania menoleh. Dia menatap heran ke arah Bima. Diamatinya laki-laki itu dari ujung kepala hingga ujung kaki seperti memastikan kalau itu memang Bima yang sering mengganggunya selama ini. Dia masih belum mengerti kenapa sikap Bima tiba-tiba berubah tanpa sebab.
"Akhirnya kamu sadar juga," timpal Vania. Dia lalu mengalihkan tatapan kembali ke arah kolam. "Tapi kenapa kamu minta maaf sekarang?" tanyanya kemudian.
Bima memamerkan gigi-gigi putih, bersih, dan rapinya. "Mumpung masih ada kesempatan untuk meminta maaf," jawabnya masih terdengar lembut.
"Sudah kumaafkan," jawab Vania tegas. "Sekarang tinggalkan aku sendiri," pintanya kemudian dengan suara yang terdengar lebih pelan dan agak mengiba.
Bima tersenyum kecut. "Boleh aku mengobrol dulu denganmu, sebelum aku pergi?" pintanya dengan suara pelan.
Vania tidak langsung menjawab.
"Aku bukan hanya akan pergi dari sini, tapi juga dari kota ini."
Vania menoleh. Dia menatap wajah Bima yang tampak lesu. Ekspresi itu sangat jauh berbeda dengan biasanya. Dia pun mulai penasaran."Memangnya kamu mau pergi ke mana?" tanyanya pelan.
Bima menoleh ke arah Vania sebelum balik menatap ke arah kolam di depannya.
"Aku sering melihat mereka mengolok-olokmu gara-gara video ayahmu itu," timpalnya malah mengalihkan pembicaraan, tidak menjawab pertanyaan Vania barusan.
Vania terpaku, tidak langsung menanggapi. Dia membungkuk dan mengambil kerikil yang ada di dekat kakinya. Dilemparkannya kerikil itu ke kolam.
"Kamu mau ikut mengolok-olokku juga?" tanyanya kemudian.
Bima menoleh lagi ke arah Vania. Raut wajahnya tampak sedikit cemas. "Bukan itu. Jangan berprasangka buruk dulu."
"Tapi seperti itulah yang sering kamu lakukan selama ini," jawab Vania dengan ekspresi serius.
"Oke. Selama ini kuakui aku salah. Makanya tadi aku minta maaf."
"Iya sudah kumaafkan."
Bima tertegun. "Aku merasa kamu sekarang sedang menghadapi masalah berat. Terutama dikucilkan oleh teman-teman," ujarnya kemudian.
Vania mengangguk-angguk membenarkan. Ditatapnya sebentar wajah Bima dari samping. "Kamu benar. Tapi apa dayaku. Kenyataannya, yang mereka ucapkan itu memang benar."
"Kamu pasti sangat terpukul. Lalu kamu juga harus menghadapinya sendirian seperti sekarang," kata Bima terdengar sangat serius.
Vania tidak menjawab. Dia kembali menoleh dan menatap penuh curiga ke arah Bima.
"Sebenarnya kamu tidak sendirian." Bima masih terdengar serius.
"Iya. Sekarang aku sedang berdua denganmu." Vania menanggapi datar.
Bima menatap ke arah Vania. Diamatinya wajah cantik gadis itu. Banyak hal yang membuatnya mengagumi gadis di sampingnya sekarang. Bukan hanya kecantikannya, melainkan juga kecerdasan, kesopanan, dan ketenangannya.
"Dan aku ingin terus seperti ini, terus menemanimu melewati masa-masa sulitmu saat ini," katanya sungguh-sungguh.
Vania terbelalak. Matanya melotot mengamati Bima. Dia sepertinya masih tidak percaya dengan ucapan laki-laki itu barusan. "Apa maksudmu?!"
"Tidak ada maksud apa-apa," jawab Bima sambil menggeleng kecil.
"Kenapa kamu tiba-tiba bersikap baik padaku sekarang? Kenapa sikapmu bisa berubah sedrastis ini?" tanya Vania dengan tatapan menyelidik sekaligus curiga.
Bima mencoba tersenyum. "Aku tidak sekejam seperti yang kau bayangkan. Aku tidak akan menambah penderitaanmu dengan melakukan aksi-aksi seperti selama ini."
Vania mengkerutkan alisnya hingga hampir bertemu di tengah.
"Aku ingin berdamai denganmu," ucap Bima pelan.
Vania tidak menjawab. Perubahan sikap Bima yang seratus delapan puluh derajat itu membuat jantungnya tiba-tiba berdegup kencang dan tidak beraturan. Napasnya menjadi berat. Perasaan aneh menjalar di sekujur tubuhnya. Kebencian yang menguasai dirinya selama ini tiba-tiba terkikis, berubah menjadi perasaan lain yang tidak dapat dipahami oleh dirinya sendiri. Bagaimanapun, dia tidak boleh kehilangan kewaspadaan. Bisa jadi ini hanya trik Bima untuk kembali membuatnya kesal dan jengkel.
Mereka saling berdiam diri cukup lama. Vania kembali membungkuk, mengambil kerikil di dekat kakinya, lalu melemparkannya ke kolam. Bima mengamati itu dan melakukan hal yang sama. Langit di hadapan mereka masih diselimuti awan namun tidak menunjukkan tanda-tanda akan hujan. Mungkin seperti itu juga dengan hati Vania.
"Kau masih membenci papamu ya?" Bima kembali membuka mulut dan memberanikan diri untuk bertanya. Dia tahu pertanyaan itu sensitif, tapi harus ditanyakannya.
Vania kembali menoleh dan menatap Bima masih dengan tatapan curiga. "Kenapa kau mau tahu?"
Bima membalas dengan senyuman. "Aku pernah mengalami seperti yang sedang kau alami sekarang. Tepatnya dua tahun lalu. Sedikit banyak, aku bisa merasakan apa yang sedang kau rasakan."
"Benarkah?" Vania masih tampak ragu.
Bima mengangguk kecil. Kini dia kembali menatap lurus ke depan ke tembok belakang sekolah itu.
"Jadi kau mulai berempati padaku?" tanya Vania pelan.
Bima bergeming. Itu bermakna iya. Dia kemudian bersuara,
"Papaku pernah berselingkuh. Waktu itu aku sangat membencinya. Mama dan papa tidak saling menegur hampir setahun. Aku pun mengikuti sikap mama. Namun kemudian mama yang sempat mengajukan gugatan cerai, menarik gugatan itu, dan malah memaafkan papa. Papaku mengaku benar-benar menyesali kesalahannya itu. Setelah mediasi di pengadilan agama, papa benar-benar berubah menjadi lebih baik. Mama juga banyak berubah. Tidak lagi banyak menuntut dan keluar rumah seperti sebelumnya. Kami kemudian lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Kini kehidupan kami menjadi jauh lebih baik dibandingkan sebelum munculnya kasus perselingkuhan itu."
Vania melongo ketika mendengarkan itu. Ternyata pengalaman Bima agak mirip dengan pengalamannya. Namun dia tetap belum begitu yakin kalau ayahnya sampai berselingkuh seperti ayah Bima. Mungkin saja pengalaman Bima itu jauh lebih buruk dibandingkan pengalamannya. Dia pun tidak tahan untuk bertanya,
"Sekarang kau menjadi lebih akrab dengan papamu, ya?"
Bima mengangguk sambil menampakkan ekspresi bahagia dan bangga.
"Semenjak itu, papa selalu pulang cepat, lebih sering di rumah dan selalu mendukung semua aktivitasku. Kami bahkan sering main gim bersama, baik di konsol maupun di ponsel. Terkadang mama sampai harus berteriak-teriak untuk menghentikan kami main. Suasana itu terasa sangat indah dan bahagia." Senyum sumringah terpancar di wajah Bima sambil menatap langit.
"Kenapa sikapmu dan mamamu bisa berubah seperti itu ke papamu?" Vania mulai penasaran. Tanpa disadarinya, dia mulai tertarik dengan pengalaman Bima itu.
Bima kembali menanggapi dengan senyuman. Ditatapnya mata Vania yang sedang menatapnya. Terasa getaran di hatinya. Dia harus menarik napas dalam untuk bisa kembali bersuara.
"Aku punya cerita untukmu. Cerita inilah yang kemudian mengubah sikapku waktu itu."
Vania menunduk, tidak tahan berlama-lama saling menatap dengan Bima. "Cerita apa?" tanyanya tanpa melihat ke arah Bima.
"Cerita ini tentang tukang bangunan yang memasang keramik di sebuah rumah. Ada sekitar seribu keramik yang dipasangnya. Sayangnya, karena mungkin kurang fokus atau kurang hati-hati, salah satu keramik terpasang secara keliru. Keramik itu terlihat miring dan tidak enak dipandang. Melihat itu, pemilik rumah kesal bukan kepalang. Tukang bangunan itu pun dimarah habis-habisan."
Vania mengernyitkan dahi. "Apa maksud dari ceritamu itu?"
Bima kembali tersenyum.
"Pada dasarnya kita selalu menginginkan kesempurnaan. Akibatnya kita sering tidak berlaku adil. Seperti pemilik rumah itu. Dia tidak menghargai jerih payah tukang bangunan yang telah berhasil memasang sembilan ratus sembilan puluh sembilan keramik. Justru dia memarahi si tukang bangunan habis-habisan gara-gara salah memasang satu keramik saja."
Vania mengerutkan dahinya. "Aku masih belum mengerti pesannya. Filosofinya tingkat tinggi," pungkasnya sambil menggeleng.
Bima sedikit terkekeh. Setelah menoleh sebentar, dia pun melanjutkan,
"Apakah kamu pernah memikirkan semua kebaikan papamu selama ini? Seberapa banyak kebaikannya dibandingkan dengan kesalahan yang diperbuatnya tempo hari?"
Vania tampak berpikir keras, mencoba merenungkan ucapan Bima barusan. Keningnya mengkerut tanda berpikir sangat dalam. Urat di pelipisnya tampak berdenyut-denyut. Beberapa menit kemudian dia kaget sendiri.
"Kamu ingin mengatakan kalau aku seperti si pemilik rumah sementara Papaku seperti si tukang bangunan?!" tanya Vania dengan ekspresi tampak tercengang.
"Persis!" Bima akhirnya tersenyum senang.
Vania makin paham. Tiba-tiba sudut matanya mulai berair. Matanya terasa perih. Terbayang olehnya wajah muram ayahnya di rumah setiap kali dia ingin berangkat ke sekolah. Ayahnya memang telah melakukan satu kesalahan. Namun, ayah yang sama pula yang telah memberikan ribuan kebaikan untuk dirinya. Vania tampak menyesali diri sendiri. Kenapa dia tidak berpikir seperti itu selama ini. Kenapa satu kesalahan ayahnya telah menutupi ribuan kebaikannya.
"Haaai! Kamu masih di sini?" tanya Bima dengan sedikit berteriak sambil melambai-lambaikan telapak tangan di depan wajah Vania.
Vania yang tadi tampak merenung langsung menoleh. Segera dihapusnya butiran air mata yang terlanjur menetes di pipinya.
"Tidak usah malu. Menangis saja kalau kamu mau menangis. Itu akan membuatmu lebih tenang," kata Bima lembut sambil tersenyum.
"Kenapa kamu menceritakan kisah itu padaku."
"Siapa tahu itu bisa membantumu."
"Kenapa kamu ingin membantuku?" Vania kembali menatap Bima dengan tatapan tajam. Dia nampak belum begitu percaya pada laki-laki di sampingnya ini dan ingin tahu alasan Bima membantunya.
Bima tercekat. Dia tahu persis jawabannya. Ada di dalam lubuk hatinya yang terdalam. Namun dia belum sanggup mengungkapkan jawaban itu sekarang. Karena itu, terpaksa dia mengalihkan topik pembicaraan.
"Kamu tahu Liverpool?" tanyanya dengan antusias.
Vania mengernyitkan dahi lalu menggeleng.
Bima mengerutkan dahi, terlihat agak kecewa Vania tidak tahu tentang itu.
"Benaran tidak tahu?" tanyanya memastikan.
Vania kembali menggeleng.
"Itu tim sepakbola," kata Bima menjawab sendiri pertanyaannya.
"Oohh," timpal Vania sambil memonyongkan bibirnya.
"Itu tim favoritku," tambah Bima.
"Oohh."
Bima terdiam sejenak. Dia mengetuk-ngetukkan jemarinya ke paha.
"Kamu tahu kenapa aku menyukai Liverpool?" tanyanya kemudian.
Vania kembali menggeleng.
"Karena slogan mereka," kata Bima kembali menjawab sendiri pertanyaannya.
Vania tampak penasaran.
"Apa bunyinya?" tanyanya.
"You will never walk alone."
"Oohh," balas Vania sambil kembali memonyongkan bibir. Dia juga mencoba menerjemahkan kalimat itu ke dalam Bahasa Indonesia.
"Selama ada aku, You will never walk alone, Van," kata Bima terdengar tulus. Matanya tampak berkaca-kaca ketika mengucapkan itu.
Vania baru saja memahami arti kalimat itu ketika Bima mengatakannya. Dia pun terkesiap. Dia tak mampu berkata-kata. Tubuhnya tiba-tiba terasa panas dingin dan bergetar-getar. Dia pun salah tingkah.
Bima pun sama. Dadanya bergemuruh setelah mengucapkan itu. Dia harus menarik napas dalam-dalam agar mampu kembali tenang. Dia bahkan merasa berat menatap Vania.
"Hayuuk kita pulang." Terpaksa Vania harus mengakhiri kebersamaan mereka siang itu. Dia belum berani larut dengan perasaan, takut mengingkari ikrarnya dengan Bunda Karin. Dia berdiri, berjalan memutari bangku, lalu melangkah ke arah depan sekolah tanpa menoleh sama sekali ke arah Bima.
Tidak mau ditinggal sendirian di situ, Bima pun ikut berdiri dan langsung berlari kecil mengejar Vania yang berjalan cepat. Dia langsung berjalan sejajar di samping Vania. Dia menoleh ke arah perempuan manis di sampingnya itu sambil berucap, "You will never walk alone."
Jantung Vania kembali berdegup kencang seperti di belakang kelas tadi. Tubuhnya terasa ringan. Dia merasa sudah tidak lagi menjejakkan kaki di tanah, melainkan terbang melayang-layang seperti seorang bidadari. Pertanda apa ini? Tanyanya dalam hati.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.