Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Restoran Longview Sea Side bukanlah restoran mewah dan terkenal di kota Perth, Australia Barat. Namun, karena lokasinya yang dekat dengan pantai yang pemandangannya cukup indah sekaligus juga dekat dengan kompleks perkantoran, restoran ini pun selalu ramai di jam-jam makan siang, terutama di hari kerja. Di restoran inilah Miranda menghabiskan jam makan siangnya hampir setiap hari sejak tinggal di kota ini.
Letak restoran itu tepat berada di depan kantornya, hanya dipisahkan jalan dua jalur selebar kira-kira dua belas meter. Karena bukan termasuk jalan protokol, kendaran yang melewati jalan itu tidak terlalu ramai. Dia lebih sering berjalan kaki daripada menggunakan mobil karena lebih cepat sampai. Dia cukup menyeberang melalui zebra cross yang berada agak ke sebelah utara. Kalau naik mobil, dia harus berputar cukup jauh di bundaran yang berjarak sekitar tujuh ratus meter ke arah selatan. Perjalanan bolak-balik ke dan dari bundaran itu menjadikan jarak yang hanya sekitar lima puluh meter menjadi hampir satu setengah kilometer.
Sperti biasa, menjelang tengah hari Miranda sudah duduk manis di restoran. Karena datang lebih cepat, dia mendapatkan tempat duduk yang strategis. Mejanya berada di bagian belakang restoran, bersebelahan dengan bibir pantai. Dia memilih duduk di kursi yang menghadap langsung ke Samudera Hindia. Meskipun begitu, angin laut yang membawa pasir dan debu tidak sampai mengotori makanannya karena ruang makan restoran dan pantai di depannya itu terpisah oleh dinding kaca.
Dinding kaca itu bukan hanya tebal melainkan juga sangat lebar, merentang dari sisi utara restoran hingga sisi selatannya, yang kira-kira berjarak lima belas meter. Kaca itu sangat bening dan dibersihkan secara rutin setiap hari, terutama sebelum para pelanggan mulai berdatangan, sehingga mata mereka benar-benar dimanjakan oleh pemandangan indah langit dan samudera biru di depan sana.
Miranda baru saja selesai melahap menu utama ketika ponselnya kembali berbunyi untuk yang ke sekian kalinya. Sudah puluhan pesan yang masuk sejak dia duduk tadi. Setelah selesai mengelap mulut dengan tisu, dan mendorong piring ke tepi jauh meja, dia pun segera meraih ponsel yang diletakkannya di atas meja tepat di sebelah kanan pisau makan yang tidak digunakannya.
Di layar langsung terpampang puluhan pesan yang masuk ke aplikasi hijau hanya dalam tempo beberapa menit ini. Hampir semua pesan-pesan yang diterimanya dikirim melalui aplikasi hijau yang memang sedang populer saat ini. Diusapnya layar dengan pola tertentu untuk membuka kuncinya. Diturunkannya halaman aplikasi secara perlahan untuk memeriksa satu per satu pengirim pesan.
Hampir semua pesan dikirim oleh orang-orang yang terdaftar di kontaknya. Beberapa di antaranya adalah klien perusahaan. Sebagian lainnya adalah mitra kerja. Selain itu, beberapa pesan juga dikirim dari nomor yang belum terdaftar karena tidak tertera namanya. Bagaimanapun, dia tidak pernah mengabaikan pesan dari nomor baru seperti itu karena sering kali pesan itu dikirim oleh calon klien perusahaan. Dari pesan-pesan baru itu, tidak jarang dia mendapat proyek dan kontrak baru yang cukup menggiurkan.
Dia pun mulai membuka dan membaca satu per satu pesan yang masuk. Dia mengawalinya dengan membaca pesan dari nomor yang sudah terdaftar di kontaknya. Kebanyakan isi pesan itu tentang urusan bisnis persis seperti yang diduganya. Setelah itu, barulah dia melanjutkan membuka pesan dari nomor-nomor yang tidak terdaftar. Isinya tidak jauh berbeda, masih terkait dengan urusan bisnis, mulai dari pertanyaan simpel tentang kelebihan jasa yang ditawarkan perusahaannya, hingga pertanyaan kompleks dan mendetail tentang rincian isi kontrak kerja sama.
Namun, keningnya tiba-tiba langsung mengerut ketika membaca pesan berikutnya. [Bisa kita ketemu dalam waktu dekat ini?!!! Ada yang harus kita bicarakan. Penting!!! Ini tentang RAHASIA TERDALAM suamimu!]
Pesan itu merupakan satu-satunya pesan yang ditulis dengan bahasa Indonesia yang diterimanya hari ini. Frasa “rahasia terdalam” yang ditulis dengan huruf kapital itu merupakan penyebab kerutan di keningnya. Jantungnya langsung berdetak lebih cepat. Darahnya mengalir lebih deras. Pesan bernuansa misterius sekaligus mencemaskan seperti itu merupakan pesan pertama yang diterimanya selama tinggal di kota ini.
Tiba-tiba dia tercekat ketika teringat dengan keanehan suaminya yang dirasakannya beberapa hari belakangan ini. Pesan yang barusan dibacanya tampak terkait erat dengan keanehan itu. Beberapa pertanyaan pun langsung terlintas di benaknya. Kenapa pesan ini bisa muncul bersamaan dengan kecurigaannya terhadap suaminya? Apakah si pengirim pesan memang mengetahui apa yang sedang terjadi? Bahkan mungkin dia terkait erat dengan keanehan yang sedang dihadapinya?
Cukup lama dia menatap layar ponsel yang masih menayangkan pesan misterius itu, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengecek nomor ponsel si pengirim pesan. Kode awal nomornya termasuk kode wilayah Perth. Dari bahasa yang digunakan dan kode nomor itu, dia menduga kalau si pengirim pesan juga orang Indonesia yang tinggal di kota Perth, sama seperti dirinya.
Sempat terlintas di pikirannya kalau pesan itu hanyalah sebuah prank dari salah satu temannya. Namun kemungkinan itu kecil sekali karena temannya sesama orang Indonesia yang tinggal di kota Perth sangat sedikit. Setelah diingat-ingatnya satu per satu, tidak ada satu pun di antara mereka yang cukup aneh sehingga mau melakukan tindakan remeh, konyol, dan bodoh seperti barusan.
Dia mencoba mengingat tanggal dan bulan hari ini. Tidak juga sedang bertepatan dengan tanggal ulang tahunnya. Hari ulang tahunnya masih beberapa bulan lagi. Jadi tidak ada alasan bagi teman-temannya untuk mengerjainya. Selain itu, selama ini teman-temannya juga tidak pernah mengerjainya dengan hal-hal aneh ketika dia sedang berulang tahun.
Kemungkinan lain pun terpikir olehnya. Mungkin saja salah satu atau beberapa dari banyak temannya di Indonesia sedang berkunjung ke kota ini. Dia atau mereka mungkin sedang nge-prank untuk keperluan konten seperti yang banyak dilakukan orang-orang sekarang. Atau bisa juga mereka mengirim pesan itu sebagai bentuk ucapan selamat datang, karena akan bertemu kembali di kota ini.
Miranda pun langsung mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru restoran untuk memastikan kemunginan itu. Diperiksanya secara teliti semua pengunjung restoran, kalau-kalau ada salah satu atau beberapa di antara mereka merupakan teman-temannya yang sedang berkunjung ke kota ini dan sedang makan di restoran sini. Mungkin dia atau merekalah yang iseng mengirim pesan barusan.
Sama seperti biasanya, ruang makan restoran dipenuhi pengunjung. Hampir semua meja terisi. oleh pengunjung yang berpakaian rapih. Dapat dipastikan kalau mereka merupakan pegawai kantoran. Dari penampakan fisik mereka dapat disimpulkan kalau mereka adalah penduduk asli kota Perth. Tubuh mereka tinggi besar. Kulit mereka putih. Ramput mereka pirang. Mereka pun mengobrol dalam bahasa Inggris. Tidak ada satu pun yang mirip orang Indonesia.
Setelah benar-benar memeriksa secara detail ke seluruh penjuru, Miranda bisa memastikan kalau tidak tampak satu pun orang yang berperawakan Indonesia di antara mereka. Itu artinya tidak ada orang yang patut dicurigai sebagai pengirim pesan misterius barusan. Tidak ada orang yang sedang nge-prank dirinya. Itu artinya pesan itu bukan sebuah prank, melainkan pesan yang serius! Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri.
Dia pun kembali mengalihkan tatapan ke layar ponsel, lalu termenung cukup lama, sebelum akhirnya memutuskan untuk tidak menggubris pesan itu. Dimasukkannya kembali ponsel ke dalam tas. Setelah menarik nafas panjang dan menahannya cukup lama untuk sedikit menenangkan diri, dia berdiri dari kursi dan berjalan menuju kasir untuk membayar makanan yang baru saja disantapnya.
Belum lima langkah dia meninggalkan meja kasir, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini bunyinya berbeda dari sebelumnya, lebih lama dan mirip nada sebuah lagu yang sedang populer di radio. Bunyi itu menandakan sedang ada panggilan masuk. Dia memilih untuk tidak menghiraukannya dan terus melangkah menuju pintu keluar restoran. Beberapa pekerjaan sudah mendekati deadline. Beberapa klien telah menagih, termasuk melalui pesan-pesan tadi. Dia ingin segera menyelesaikannya.
Saat menyeberangi jalan, ponselnya kembali berdering dengan nada panggilan yang sama. Dia tetap mengabaikannya sampai bunyi dering itu berhenti dengan sendirinya. Namun ponsel itu hanya diam beberapa detik. Setelah itu nada dering yang sama kembali terdengar. Dia tetap tidak menggubrisnya. Setelah dering itu berhenti, tidak sampai tiga detik, dering itu kembali terdengar. Hal yang sama terus terjadi secara berulang-ulang.
Pada akhirnya Miranda mulai terlihat jengkel. Ini pertama kali dia mendapat panggilan iseng yang melewati batas dan terkesan memaksakan kehendak seperti itu. Bahkan sekarang, itu sudah terasa seperti sebuah teror. Setelah sampai di seberang jalan dan mendekati parkiran, dia langsung mengeluarkan ponsel dari dalam tas lalu memeriksa layarnya. Dia sangat penasaran siapa sebenarnya orang yang kurang ajar ini.
Di layar langsung terpampang panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Semua panggilan yang barusan masuk berasal dari nomor yang sama. Panggilannya sebanyak delapan kali! Dibukanya kembali pesan misterius sebelumnya untuk memeriksa nomornya. Ternyata nomor si pengirim pesan sama persis dengan nomor yang barusan melakukan panggilan! Itu berarti, si pengirim pesan ingin berbicara langsung dengan dirinya.
Miranda pun langsung merinding. Tengkuknya mulai terasa dingin. Jantungnya langsung berdetak semakin kencang. Darahnya mengalir lebih deras. Rasa penasarannya kembali muncul dan bahkan semakin besar. Sempat terpikir olehnya untuk menelepon balik, tapi diurungkannya. Perlahan rasa takut mulai menghinggapinya.
Setelah tertegun cukup lama di pinggir jalan, dia akhirnya kembali melangkahkan kaki di jalan yang membelah lapangan parkir menuju pintu masuk utama kantor. Langkah kakinya terlihat lebih cepat daripada sebelumnya. Ponsel tidak dimasukkannya ke dalam tas, melainkan tetap digenggamnya di tangan kanan. Dia seperti sedang menunggu apa yang akan dilakukan si penelepon misterius.
Ketika mendekati pintu utama kantor, ponselnya kembali mendendangkan nada panggilan yang sama. Ini panggilan untuk kesembilan kalinya! Langsung diangkatnya ponsel untuk memeriksa siapa yang sedang melakukan panggilan. Tidak ada nama, hanya tertera nomor yang sama persis dengan nomor sebelumnya!
Rasa penasaran terhadap si pemilik nomor misterius mulai meluap-luap di dadanya. Dia benar-benar ingin tahu siapa sebenarnya orang yang tidak beretika ini. Namun dia tampak ragu untuk menekan tombol terima di layar. Dia belum siap menerima panggilan dari nomor misterius ini. Rasa takut benar-benar telah menguasai dirinya. Akhirnya, diabaikannya saja panggilan itu.
Belum lima meter dia melewati pintu masuk, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini bukan lagi nada panggilan, melainkan bunyi pesan masuk. Dia langsung berhenti di tengah lobi, dan segera memeriksa pesan yang baru saja masuk. Pesan itu berasal dari nomor yang barusan melakukan panggilan. Karena diliputi rasa penasaran yang kuat, langsung dibukanya pesan itu.
[Aku tahu kamu sedang kebingungan dengan keanehan suamimu. Jangan membohongi diri!!! Kamu butuh informasi tentang suamimu, bukan?!]
Akhirnya Miranda tidak dapat menahan diri lagi. Kejengkelannya pun langsung dilampiaskannya dengan mengirim pesan balasan.
[Apa maumu?! Jangan menggangguku!!! Jangan mengganggu kami!!!] tulisnya dengan menggunakan banyak tanda seru yang menandakan dia sudah jengkel dan marah.
Meskipun sedang mencurigai suaminya, entah kenapa, dia tidak terlalu yakin kalau pesan itu berasal dari selingkuhan suaminya. Tidak pernah ada ceritanya seorang selingkuhan berani mengungkap kedoknya sendiri. Kecurigaannya lebih mengarah kepada mantan pacar suaminya!
Miranda sangat teliti dan selektif. Pengalaman traumatis pada pernikahan pertamanya membuat dia tidak sembarangan dalam mengambil keputusan, apalagi untuk keputusan yang sangat sakral, menikah. Sebelum menerima lamaran Robert beberapa waktu lalu, dia sudah memeriksa latar belakang suaminya itu dengan sangat teliti. Hasilnya, tidak ada yang aneh.
Bagaimanapun, tetap terbuka kemungkinan dia luput mengetahui semuanya. Meskipun kecil, tetap ada kemungkinan kalau Robert pernah memiliki pacar, yang mungkin sangat posesif sehingga tidak mau menerima keputusan Robert menikahi orang lain.
Sempat terbersit di pikirannya ingin menulis pesan yang lebih kasar untuk mendamprat si pengirim pesan. Namun, rasa penasaran terhadap keanehan suaminya membuatnya mengurungkan diri. Dia pun menunggu pesan balasan. Mungkin saja orang ini memang mengetahui rahasia suaminya yang belum diketahuinya. Mungkin saja orang ini memiliki informasi penting tentang keanehan suaminya yang mulai dirasakannya belakangan ini. Tidak menunggu lama, pesan balasan pun masuk.
[Aku tidak mengganggumu! Kau yang menggangguku bahkan sampai menghancurkan hidupku!!!]
Miranda semakin yakin dengan dugaannya sekaligus semakin geram mendapat balasan seperti itu. Dia tidak pernah berniat mengganggu apalagi menghancurkan kehidupan orang lain. Segera dibalasnya pesan itu.
[Apa maksudmu?! Aku tidak mengenalmu!!! Aku juga tidak pernah bertemu dan berinteraksi denganmu!!! Kenapa kau menuduhku seperti itu?!] jawabnya dengan emosi yang semakin memuncak dan meledak-ledak.
Hening beberapa detik. Tidak ada balasan yang dinanti-nantikannya. Sepertinya si pengirim pesan mulai ketakutan, pikirnya. Dia pun kembali melangkah.
Akan tetapi, ketika langkah kakinya mulai dekat dengan elevator, ponselnya kembali berbunyi. Sebuah pesan kembali masuk. Dia langsung berhenti, mengangkat ponsel, dan bergegas membuka pesan itu.
[Kalau mau tahu lebih banyak, besok temui aku di kafe Southwest Beach di ujung jalan Boulevard. Pukul satu siang. Tenang saja, kafe itu ramai. Aku tidak akan macam-macam. Aku hanya ingin menyampaikan sebuah rahasia penting yang harus kamu ketahui.] Kali ini pesan balasan dari orang misterius itu malah bernada datar, tidak meledak-ledak seperti tadi.
Miranda hendak mengetik pesan balasan, tapi segera diurungkannya. Dia tidak ingin lagi membalasnya. Itu tidak akan menyelesaikan masalah. Yang ada emosinya akan semakin tidak terkendali.
Dadanya masih bergemuruh. Nafasnya masih kembang kempis. Dia terlihat benar-benar syok mendapat kiriman pesan seperti itu. Balasan terakhir itu benar-benar menghantui pikirannya. Dia pun dilanda kebingungan yang luar biasa. Apakah dia akan menemui si pengirim pesan misterius itu atau tidak?
--------------------
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.