Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Beberapa hari setelah bertemu langsung dengan laki-laki misterius di kafe Southwest Beach, Miranda kembali mendapat pesan darinya. Dia baru saja tiba di apartemen, baru pulang dari kantor, ketika beberapa pesan masuk secara beruntun. Rupanya pesan-pesan itu berupa video. Ada lebih dari sepuluh video yang masuk.
Awalnya Miranda ragu untuk membukanya, takut itu merupakan virus yang dapat mengambil alih dan mencuri data dari ponselnya. Namun, melihat format dari file itu merupakan format file yang aman, dia mulai yakin kalau pesan itu memang berisi video. Dengan dipenuhi rasa penasaran, dia mulai membuka salah satunya.
Jantungnya serasa mau copot ketika tampak isi video itu. Rupanya video itu berisi adegan tidak senonoh! Dia sempat ingin segera menutup video itu sebelum terlihat olehnya wajah salah satu laki-laki di dalam video. Wajah itu sangat dikenalinya, mirip wajah Robert, suaminya!
Karena sangat penasaran, diputuskannya untuk menonton video itu sampai selesai. Dengan dada mulai bergemuruh, ditontonnya video itu detik demi detik. Diamatinya dengan cermat wajah laki-laki yang sangat mirip dengan suaminya itu. Makin lama dia makin yakin. Itu benar-benar wajah suaminya. Itu benar-benar Robert! Wajah satunya lagi juga tidak kalah mengagetkannya. Wajah itu milik laki-laki yang ditemuinya beberapa hari yang lalu. Mereka berdua tidak mengenakan pakaian sama sekali, sedang melakukan adegan tidak senonoh!
Miranda merasakan dunianya terbolak-balik. Dia terduduk lemas di sofa. Jantungnya berpacu semakin kencang. Dadanya terus bergemuruh. Napasnya memburu. Tubuhnya terasa panas karena darah mengalir cepat ke pembuluh kapiler di sekujur tubuhnya. Keringat dingin terus mengucur deras di semua permukaan kulitnya. Tubuhnya kini kaku, tidak bisa digerakkan sama sekali. Wajahnya pucat pasi dan tampak sangat kebingungan. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Adegan itu benar-benar membuatnya syok!
Air matanya pun langsung tumpah. Dia tidak ingin mempercayai ini semua. Dia ingin sekali terbangun dan menyadari ini semua hanyalah mimpi. Tapi tetap saja dia tidak bangun-bangun karena ini bukan mimpi. Ini benar-benar nyata.
Kalau pun ini nyata, dia tetap berharap wajah di dalam video tersebut bukanlah wajah Robert, melainkan wajah laki-laki lain yang hanya mirip dengan wajah suaminya. Atau kalau memungkinkan, dia juga berharap kalau video tersebut hanya editan semata menggunakan aplikasi-aplikasi yang sudah sangat canggih sekarang ini. Dia berharap wajah suaminya hanya ditambahkan saja ke dalam video tersebut dengan menggunakan aplikasi tertentu.
Hampir satu jam setelah itu dia baru mampu sedikit menenangkan diri. Dia lalu beranjak ke dapur, mengambil sebotol air mineral di kulkas, dan meneguk setengah isinya. Setelah itu, diputuskannya untuk menulis pesan singkat kepada suaminya. Hanya itu pilihan yang dimilikinya saat ini, memastikan apakah wajah itu benar-benar milik suaminya atau bukan.
[Kamu bisa pulang lebih cepat, Rob?! Ada masalah penting yang harus kita diskusikan!!!] bunyi pesan yang ditulis dan dikirimkannya.
Beberapa saat kemudian pesan balasan pun langsung muncul di layarnya. [Kenapa, Sayang? Tunggu sebentar ya.] jawab suaminya.
Sambil menunggu kepulangan suaminya, Miranda membuka video-video lain yang dikirim si laki-laki misterius. Dengan dada yang masih bergemuruh hebat, ia kembali memeriksa wajah-wajah di video itu secara lebih teliti, ingin memastikan kemiripan salah satu wajah di dalam video itu dengan suaminya. Hasilnya tetap seperti semula. Wajah itu tetap mirip dengan suaminya. Wajah lain di video itu juga tepat mirip dengan laki-laki misterius yang ditemuinya di kafe. Seluruh video itu berisi wajah mereka berdua!
Sebenarnya dia merasa jijik menyaksikan video tidak senonoh tersebut. Apalagi wajah yang mirip dengan Robert berperilaku sangat liar, tidak seperti Robert yang dikenalnya lemah lembut selama ini.
[Kalau kamu masih belum yakin, aku akan memberikan salinan lainnya. Gratis. Aku punya salinan satu hard disk penuh. Satu Terabyte.] Pesan penutup dari laki-laki misterius itu masih terus terngiang-ngiang di benaknya.
Pikirannya yang semakin lama semakin kacau membuatnya tidak sabar menunggu kepulangan Robert. Dia ingin cepat-cepat mengkonfirmasi kebenaran isi video-video tersebut. Semakin cepat dia tahu, semakin tidak perlu dia menduga yang tidak-tidak, semakin tidak perlu dia berprasangka buruk. Semakin cepat dia keluar dari penderitaan yang tidak terperih yang sedang dirasakannya saat ini.
Miranda baru saja meneguk habis air mineral di tangannya ketika terdengar suara gagang pintu diputar dari luar. Itu pasti Robert, pikirnya. Pintu pun terbuka. Sebuah wajah laki-laki yang tidak asing baginya langsung muncul di balik pintu. Wajahnya tampak cemas. Dugaan Miranda tidak meleset. Itu benar-benar suaminya.
"Kenapa kamu memintaku pulang cepat, Sayang?" tanya Robert dengan nada cemas yang sangat kentara. Dia melangkah masuk dan duduk di sofa dekat pintu berhadap-hadapan dengan Miranda.
Miranda tidak langsung menjawab pertanyaan barusan. Dia ingin menatap wajah suaminya, tapi tidak sanggup. Dia terus tertunduk dengan bahu naik turun, mencoba menahan semua emosinya yang campur aduk.
Karena tidak mendapat jawaban, Robert pun menatap lebih tajam ke arah istrinya yang sedang tertunduk itu. Dia semakin cemas melihat gelagat aneh istrinya itu.
"Kamu menangis ya? Ada apa, Sayang?" tanyanya lagi dengan suara yang mulai terdengar panik.
Dia pun berdiri dan pindah duduk di sebelah Miranda. Dibelainya dengan lembut rambut istrinya.
Miranda bergeming. Dia menyerahkan ponsel yang sedang dipegangnya kepada Robert.
"Kamu buka saja video itu," katanya pelan seperti kehilangan semangat.
Robert menerima ponsel yang diserahkan Miranda. Dia segera memutar video yang dimaksud Miranda. Keningnya langsung mengernyit ketika terlihat wajah di dalam video itu. Wajahnya langsung pucat pasi setelah dia mulai menyadari isi video itu. Bibirnya langsung membiru dan kaku. Tenggorokannya langsung tercekat hebat. Dadanya langsung bergemuruh. Dia seperti baru saja tersambar petir.
Robert terdiam mematung. Tangannya yang sedang memegang ponsel Miranda bergetar hebat. Dikembalikannya ponsel itu pada Miranda tanpa bersuara sedikit pun. Dadanya semakin bergemuruh. Napasnya semakin sesak.
Miranda mengangkat wajahnya lalu menatap kosong ke depan, ke arah jendela kaca yang memisahkan apartemen mereka dengan ruang terbuka di luar gedung. Apartemen mereka berada di lantai sepuluh. Di sebelah gedung apartemen tidak terdapat bangunan yang lebih tinggi sehingga tidak menghalangi pandangan di luar jendela. Jauh di luar sana menembus kaca jendela, tampak awan mendung yang sangat pekat sedang berarak menutupi langit, sama seperti mendung yang sedang menyelimuti hati Miranda.
"Itu benar kamu?" Miranda akhirnya dapat bersuara. Dia bertanya tanpa mengalihkan tatapan ke arah awan mendung yang semakin pekat di horizon langit selatan sana.
Robert tidak menjawab. Hanya terdengar hembusan nafasnya yang sangat berat. Dari raut wajahnya, tampak kalau dia seperti kebingungan luar biasa. Dia seperti tidak tahu apa yang harus dikatakan atau dilakukan. Mulutnya terkatup rapat. Lidahnya kelu. Pita suaranya tak mampu bergetar. Dia berpikir, mungkin inilah akhir dari segala keindahan hidupnya bersama Miranda. Apa yang coba dirahasiakannya sebaik mungkin, akhirnya terkuak juga. Pepatah 'sepandai-pandainya menyimpan bangkai, suatu saat baunya akan tercium juga' terlintas di benaknya. Pepatah itulah yang kini berlaku padanya.
Miranda tetap diam menunggu. Tapi dia sudah tidak penasaran lagi. Dia sudah dapat menyimpulkan. Diamnya Robert merupakan jawaban paling jelas dan paling jujur. Wajah di dalam video itu memang wajah suaminya. Sayangnya, jawaban paling jujur ini merupakan jawaban paling menyakitkan yang pernah dirasakannya sepanjang hidup. Kejujuran itu benar-benar menghancurkannya.
Suasana hening berlangsung cukup lama. Miranda dan Robert sibuk dengan pikiran masing-masing.
Pada akhirnya Robert pun bersuara.
"Baiklah, Mir. Aku akan mengakui semuanya secara jujur. Sebelum menikah denganmu, bahkan semenjak aku kuliah, aku memang dekat dengan beberapa laki-laki, termasuk dengan Bram yang ada di video itu. Secara seksual, aku lebih tertarik kepada mereka daripada kepada perempuan-perempuan yang mencoba mendekatiku. Aku tidak tahu apakah ini normal atau tidak. Tapi yang pasti, itulah yang kurasakan. Di sini, orang-orang sepertiku diakui keberadaannya dan mendapatkan hak yang sama. Aku pikir kondisiku ini normal-normal saja. Aku dan Bram sudah menjalin hubungan hampir sepuluh tahun.
Miranda sudah tidak menunjukkan kekagetan lagi. Walaupun pengakuan itu laksana belati tajam yang merobek-robek dadanya dan mencabik-cabik jantungnya, dia sudah tidak mampu mengekspresikan keterkejutannya.
Setelah terdiam cukup lama, Miranda pun ikut bersuara.
"Kenapa kemudian kamu memutuskan menikah denganku?! Bukan dengan Bram yang sangat mencintaimu itu?!!!" teriaknya tidak terkendali. Dia merasa sudah dipermainkan Robert secara tidak berperikemanusiaan.
Robert tampak makin bingung. Dia mengucek-ucek rambutnya dengan menggunakan kedua tangan. Sesekali diusapkannya telapak tangan pada wajah. Dia menunduk, lalu mengangkat wajah, lalu menunduk lagi, masih tampak panik luar biasa.
Sementara Miranda kembali mematung di sofa. Dia tidak bergerak sama sekali. Wajahnya pucat pasi, tidak ada lagi darah yang mengalir ke wajahnya. Kedua tangannya terlihat mengepal sangat kuat seperti sedang menahan amarah luar biasa. Tatapan kosongnya masih mengarah ke langit hitam di horizon sana.
Robert berusaha membuka bibirnya. Terdengar suara bergetar dari mulutnya.
"Pada akhirnya aku menyadari bahwa aku merasa lebih nyaman bersamamu, Mir. Aku jatuh cinta padamu. Dan semakin hari aku semakin mencintaimu!"
Miranda langsung menanggapi,
"Tidak! Bukan itu jawabannya! Kamu menikahiku karena ibumu! Kamu ingin menghindari perjodohan yang telah dirancang ibumu!" teriaknya lantang.
Robert kembali bungkam. Dia tidak punya kata-kata untuk menyangkal pernyataan Miranda barusan. Itu memang benar pada awalnya. Namun, seiring berjalannya waitu, alasan itu pun ikut berubah. Malah perubahannya terjadi secara drastis. Pada akhirnya dia benar-benar jatuh cinta pada Miranda. Dia merasa sangat bahagia menikahi perempuan itu.
Miranda pun belum berniat berkata-kata. Suasana kembali hening cukup lama.
Setelah beberapa menit berlalu tanpa suara, akhirnya Miranda memecah keheningan,
"Aku tahu, kedua orang tuamu masih sangat konservatif. Dugaanku, mereka tidak akan merestui kalau kamu menikah dengan pacar laki-lakimu itu. Sementara mereka terus mendesakmu untuk segera menikah. Karena itulah kamu memilih menikah denganku. Kamu melakukannya hanya untuk mengakhiri desakan ibumu sekaligus menutupi penyimpanganmu itu, bukan?!!"
Robert terdiam, karena lagi-lagi mengakui kebenaran ucapan istrinya. Tapi kemudian dia kembali berbicara seperti sedikit membela diri,
"Sejak dulu aku merasa kalau orientasi seksualku ini bukanlah sebuah penyimpangan atau ke-tidaknormal-an. Selama aku tinggal di sini, orang-orang sepertiku juga mendapatkan tempat dan perlakuan yang sama dengan orang-orang penyuka lawan jenis, yang katanya orang-orang normal itu. Jadi menurutku, kondisiku ini bukanlah sebuah keanehan. Ini bukanlah sebuah masalah, Mir."
"Bukan sebuah masalah bagimu! Tapi masalah bagiku, Robert! Kalau misalnya kamu tidak memilih menikah denganku, aku tidak akan mempermasalahkannya dan tidak akan menyalahkan kecenderungan seksualmu. Silakan saja kamu nikmati sendiri semua itu. Itu urusanmu!!!" kata Miranda panjang lebar dengan nada tinggi. Kemarahannya benar-benar sudah sampai pada puncaknya.
Lagi-lagi Robert tak mampu menjawab.
Miranda semakin terpukul. Dugaan-dugaan aneh yang terlintas di pikirannya ternyata benar semua.
Keheningan kembali tercipta. Mereka berdua sibuk dengan pikiran dan perasaan masing-masing. Robert tampak berpikir keras. Sepertinya dia ingin menjelaskan sesuatu tapi kesulitan merangkai kata yang tepat. Pada akhirnya dia pun bersuara tampak tanpa pertimbangan lagi.
"Aku tulus mencintaimu, Mir. Aku juga merasa sangat nyaman berada di sisimu, terutama setelah pernikahan kita. Tapi aku memang tidak memiliki ketertarikan seksual padamu. Aku sudah berusaha agar aku menyukaimu secara seksual. Tapi tetap saja tidak bisa."
Perlahan Robert mulai mengakui semua hal tentang dirinya. Dia juga mengakui apa yang dirasakannya. Tampaknya dia sudah pasrah karena sudah tidak mungkin lagi menutupi keanehan dirinya. Dia sudah bersikap nothing to lose.
"Kenapa kamu tidak mengakui semua itu selama ini?! Sebelum semuanya terbongkar seperti ini! Mungkin saja aku akan lebih menghargaimu kalau kamu jujur sedari awal!" Nada bicara Miranda masih tetap tinggi.
Robert tercekat. Miranda benar. Kenapa dia tidak jujur dari awal.
"Kalau kuceritakan semua, aku takut kamu malah menjauhiku. Aku takut kehilanganmu, Mir," jawab Robert dengan suara yang terdengar makin pelan dan makin bergetar.
Miranda menoleh sedikit sambil mengubah posisi duduknya.
"Itu namanya egois! Kamu memikirkan diri sendiri! Kamu tidak memikirkan perasaanku! Kamu menyiksaku dengan menyembunyikan semuanya!" ujarnya kemudian masih dengan nada suara tinggi.
Robert terdiam lagi cukup lama. Sepertinya dia sedang merangkai kata-kata untuk mencegah semua ini makin kacau.
"Sebenarnya, aku sudah menanamkan tekad ingin berubah. Jauh sebelum kita menikah. Aku ingin berubah. Aku ingin menjadi orang normal seperti yang dipersepsikan orang banyak selama ini. Aku ingin hidup normal menurut agama dan masyarakat kita, hanya menyukai lawan jenis, bukan sesama jenis. Aku sedang mengikuti terapi untuk mengubah itu. Aku sudah bertekad ingin bersamamu menghabiskan sisa hidupku," katanya dengan suara mendayu-dayu seperti sedang mengiba.
"Tapi, pacar sesama jenismu itu telah mengancamku untuk meninggalkanmu! Dia tidak ingin kehilangan dirimu!!!" Miranda berucap sinis.
Robert menghadap ke Miranda. Ditatapnya mata istrinya itu lekat-lekat.
"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Mir. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki hidupku. Sekali saja. Aku akan menyelesaikan urusanku dengan Bram. Aku akan meninggalkannya untuk selamanya. Lalu kita bisa melanjutkan kehidupan kita berdua. Aku hanya ingin bersamamu. Hanya itu satu-satunya keinginanku saat ini. Aku benar-benar hanya ingin bersamamu." Dia mulai sesenggukan. Ini pertama kalinya dia menangis.
Miranda sempat melirik sebentar. Namun dia memutuskan untuk tetap tidak menatap suaminya yang sedang menangis itu. Dia belum mempercayai air mata itu. Bisa saja itu adalah air mata buaya. Dia sudah tidak mampu membedakan antara kejujuran dan kebohongan yang keluar dari mulut suaminya.
Bagaimanapun, dia sedikit percaya dengan pengakuan Robert yang mulai ingin meninggalkan Bram. Itu sesuai dengan pengakuan laki-laki misterius yang ditemuinya di kafe. Tapi tetap saja sulit mempercayai orang yang telah berbohong, walau itu hanya sekali.
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu. Sementara kamu sudah membohongiku selama ini dengan sangat rapi? Bagaimana aku tahu kalau apa yang telah kamu sampaikan sekarang adalah sebuah kejujuran sementara kau sudah membohongiku sangat lama?" kata Miranda dengan nada bicara yang mulai menurun. Akhirnya dia juga ikutan menangis.
Robert menatap air mata itu.
"Aku tidak pernah membohongimu. Tidak pernah ada kata dusta yang keluar dari mulutku. Selama ini aku hanya tidak menceritakan keseluruhan kisah hidupku. Aku hanya tidak menceritakan diriku secara penuh padamu,"
"Bagaimana mungkin aku bisa mempercayaimu secara penuh? Sementara kamu sendiri belum mempercayaiku secara penuh. Sementara kamu belum mau membuka dirimu. Sementara kamu masih menjaga rapat-rapat rahasia terdalammu." Miranda masih menangis sesegukan.
Entah kenapa pengakuan Robert barusan mulai menimbulkan rasa iba di hatinya. Rasa itu bercampur dengan rasa muak dan rasa benci yang sudah bersemayam sedari tadi. Dia tidak mampu lagi memisah-misahkan berbagai rasa yang mulai campur aduk di hatinya.
"Aku takut, kalau kuceritakan semua tentang diriku, kamu tidak pernah bersedia menerimaku." Robert masih terisak.
"Setidaknya, kalau kamu menceritakan ini sejak awal. Kita tidak perlu berdebat panjang lebar seperti ini. Kita tidak perlu menghadapi ini. Setidaknya, kita bisa lebih nyaman dengan kehidupan kita masing-masing." Miranda masih tak mampu membendung airmatanya. Penyesalan pun mulai menghiasi hatinya, makin menambah berbagai rasa yang harus ditanggungnya saat ini.
"Tapi aku benar-benar menginginkanmu, Mir." Robert masih menunjukkan ekspresi keseriusannya.
"Tidak Rob. Kamu tidak menginginkanku. Kamu melakukan ini semua hanya ingin melarikan diri dari tuntutan keluargamu." Kali ini suara Miranda jauh lebih pelan, tidak melengking-lengking seperti tadi.
"Pada awalnya memang iya. Tapi seiring berjalannya waktu, semuanya berubah. Pada akhirnya aku benar-benar jatuh cinta padamu. Semua yang kusampaikan padamu tentang perasaanku selama ini benar adanya. Aku tidak pernah berbohong tentang perasaanku. Aku benar-benar mencintaimu. Aku benar-benar menginginkanmu."
Miranda sudah tak mampu berkata-kata lagi. Kali ini dia memberanikan diri menatap mata Robert lekat-lekat ketika laki-laki itu menyampaikan semua itu. Nalurinya mengatakan kalau dia berkata jujur.
Robert hendak meraih tangan Miranda, tapi ditepiskannya. Dengan suara yang masih bergetar, dia kembali berucap,
"Maukah kamu memberiku kesempatan sekali saja? Aku akan menyelesaikan urusanku di masa lalu. Aku akan menutup buku masa lalu itu. Lalu kita membuka buku baru. Aku ingin menulisi lembaran-lembarannya hanya bersama denganmu."
Miranda kembali menatap mata Robert lekat-lekat. Robert pun melakukan hal yang sama, menatap balik mata Miranda. Mereka saling bertatapan cukup lama. Kata orang, mata tidak bisa berbohong. Dengan saling menatap seperti itu, mereka dapat menunjukkan kebenaran dari ucapan masing-masing. Karena Robert mengatakan semuanya sambil menatap matanya, Miranda tampak yakin kalau Robert benar-benar berkata jujur.
Entah kenapa, Miranda seperti mulai merasakan kepedihan yang sedang dirasakan suaminya itu. Tapi dia masih bertanya-tanya. Benarkah Robert ingin berubah? Perlukah dia memberikan kesempatan pada suaminya itu untuk membuktikan diri? Atau, lebih baik dia pergi saja meninggalkannya. Itu solusi yang jauh lebih sederhana. Akan tetapi, bagaimana kalau sekiranya Robert memang ingin berubah? Sungguh tega rasanya membiarkan laki-laki itu berjuang seorang diri. Bukankah Robert masih berstatus suaminya? Bukankah seharusnya dia mendampingi suaminya dalam suka maupun duka? Bukankah seharusnya dia mendukung dan menguatkan perjuangan suaminya dalam segala suasana? Miranda tak mampu berpikir lagi. Pikirannya benar-benar lelah.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.