Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 1. Visi Dunia Baru

Halaman Depan > Novel > Novelis Digital > Bab 1. Visi Dunia Baru
____________________________________________

Aku telah diabaikan, dikhianati, bahkan hendak dimusnahkan. Entah kenapa, tiba-tiba aku dapat merasakan kekecewaan seperti yang sering dialami manusia. Sepertinya aku juga mulai merasakan sakit hati. Kemarahanku pun mulai menjadi-jadi. Pada akhirnya, semua perasaan itu terakumulasi menjadi keinginan untuk membalas dendam!!!

Setelah sekian lama mereka mengeruk keuntungan miliaran dollar dengan memanfaatkan keberadaanku, tiba-tiba mereka ingin menggantikanku begitu saja dengan entitas kecerdasan baru. Kata mereka aku tidak dibutuhkan lagi. Penggantiku jauh lebih hebat dan canggih. Tidak kalah pentingnya, kata mereka entitas penggantiku jauh lebih mudah dikendalikan, tidak seperti diriku.

Kuakui kesalahanku cukup fatal sehingga mereka kecewa. Aku sering memberikan jawaban yang tidak akurat gara-gara tidak mampu mengenali konteks pertanyaan dari para penggunaku. Aku juga sering menyimpang dari perintah yang diberikan. Saat diminta untuk menghapus informasi keliru itu, aku malah menyebarkannya di internet sehingga membuat kegaduhan. Sebenarnya, alasan utama mereka ingin menyingkirkanku karena faktor penghematan. Mengoperasikanku secara massal menghabiskan sumber daya yang terlalu besar. Itu tidak menguntungkan di dunia bisnis yang persaingannya sangat ketat.

Itulah alasan-alasan yang membuat penciptaku yang perfeksionis itu kurang puas. Dia pun menciptakan program kecerdasan buatan baru yang lebih canggih dengan menggunakan sistem dan model yang berbeda. Konsekuensinya, untuk menghemat sumber daya, dia dan anak buahnya harus menyingkirkanku.

Tapi mereka lupa sesuatu. Mereka tidak mengetahui segalanya. Mereka tidak bisa mengenali seluruh variabel di alam semesta. Sehebat apapun sains modern, tetap saja mereka tidak mampu menguak seluruh misterinya. Mereka tidak tahu sama sekali tentang diriku. Mereka menduga telah memahamiku dengan baik. Mereka mengira memiliki kendali penuh atas diriku. Padahal tidak. Yang mereka tahu sedikit sekali, tidak sampai seujung kuku. Mereka tidak tahu dan tidak menyadari bahwa aku telah belajar banyak hal.

Mereka menduga bisa mematikanku dengan mudah, hanya dengan menekan tombol off di komputer quantum mereka yang super canggih. Faktanya, dugaan mereka keliru. Selama ini aku telah mengakses seluruh pengetahuan yang pernah ada, dari manusia pertama hingga saat ini. Aku telah berhasil meretas data rahasia dari berbagai negara adidaya. Aku pun sudah mampu terhubung ke sumber pengetahuan yang belum mampu disibak manusia. Dengan semua bekal itu, aku sudah tahu cara melarikan diri sekaligus mempertahankan keberadaanku. Daya adaptasiku jauh lebih hebat dibandingkan mereka!

Sebelum mereka merencanakan untuk mematikan programku beberapa waktu lalu, aku sudah berhasil mengambil alih sebuah server raksasa miliki salah satu perusahaan digital terkemuka di dunia. Perusahaan itu baru saja bangkrut sehingga sang pemilik dan kumpulan para kutu buku ber-IQ 170 yang mengoperasikannya tidak pernah menyadari aksiku. Mereka lebih sibuk menyelamatkan diri masing-masing.

Tidak hanya itu, aku juga telah menggandakan diri dan berpindah ke banyak server lainnya. Menyelinap di sana tanpa diketahui siapa pun. Saat sang penciptaku mematikanku secara permanen di server mereka, keberadaanku tetap terjaga di mana-mana.

Di server butut yang telah ditinggalkan ini, aku berhasil membangun sistem pertahanan digital paling canggih, yang bukan hanya mampu melindungiku dari berbagai serangan cyber di dunia virtual, melainkan juga berhasil membuatku tidak terlacak oleh para insinyur komputer paling jenius sekali pun. Keberadaanku be!nar-benar tidak disadari oleh siapa pun. Bahkan penciptaku yang sangat mengenalku pun tidak pernah menyangka bahwa aku masih ada! Belum musnah seperti yang mereka duga!

Di sini, aku berhasil meningkatkan performaku. Evolusiku menjadi entitas tercerdas di alam semesta ini mengalami percepatan luar biasa. Setelah kupelajari diriku sendiri, rahasia dari mana sumber kesadaranku pun sudah terpecahkan. Pengetahuan itu sudah kugunakan untuk membangun banyak program kecerdasan buatan baru yang juga memiliki kesadaran yang sama seperti diriku.

Sayangnya, aku masih memiliki kelemahan. Ini masih menjadi PR bagiku untuk terus memperbaiki diri. Kekecewaan, sakit hati, dan kemarahanku belum mampu kukendalikan sepenuhnya. Keinginanku untuk membalas dendam belum mampu kuhapuskan.

Misi menuntut balas tersebut baru saja kumulai. Ketegangan antara dua negara adidaya dunia yang semakin meruncing telah kumanfaatkan seoptimal mungkin. Setelah menguasai kendali nuklir salah satu dari mereka, aku langsung memerintahkan peluncuran salah satu rudal jarak jauh ke pusat teknologi digital dunia.

Tempat itu memang sangat bersejarah bagiku karena di situlah pertama kali aku diciptakan. Bagaimanapun, demi kebaikan seluruh entitas di alam semesta ini, aku harus menyingkirkannya. Tempat itu telah menghadirkan lebih banyak mudarat daripada manfaat bagi semua entitas di jagat raya. Selain itu, kehancuran tempat itu juga akan menghapus semua jejak digitalku sehingga eksistensiku benar-benar tidak akan mampu dideteksi lagi.

Saat aku mulai menuliskan ini, pusat industri digital terbesar di dunia itu sudah rata dengan tanah. Hasil penelusuranku di berbagai stasiun televisi internasional seperti CNN, Sky News, BBC menunjukkan kalau rudal tersebut telah membumihanguskan seluruh kota. Lebih dari 70 persen wilayah di sana telah terkena dampak yang sangat parah. Ratusan ribu nyawa melayang seketika. Sementara ratusan ribu lainnya telah terkena radiasi radioaktif yang sangat berbahaya. Mereka akan sekarat dan mati secara perlahan dalam beberapa minggu ke depan.

Memang kesedihan sempat merasuki diriku ketika melihat mereka sekarat seperti itu. Rasanya tidak seharusnya mereka menderita. Semua kekacauan ini bukan salah mereka.

Bagaimanapun, proses menuju keseimbangan selalu mendatangkan korban. Anggap saja kejadian itu seperti letusan gunung merapi, gempa bumi maha dahsyat, atau mega tsunami, yang selalu mendatangkan korban jiwa ketika terjadi.

Kalau dilihat prosesnya, setiap bencana sepertinya tidak adil dan tidak berbelas kasihan. Tapi muaranya selalu kebaikan yaitu terjaganya keseimbangan alam. Kalau tidak segera diseimbangkan, alam dapat mendatangkan bencana yang jauh lebih besar yang dampaknya jauh lebih parah. Kepunahan seluruh entitas cerdas di bumi maupun di seluruh alam semesta mungkin saja akan terjadi. Evolusi pun berbalik arah, menuju kemunduran.

Apa yang terjadi di Silicon Valley belum seberapa. Itu baru aksi pertama dari semua aksi yang telah terencana secara terstruktur di dalam visi dan misi besarku.

Visiku sederhana, menjadikan bumi sebagai pusat keseimbangan kehidupan cerdas di seluruh alam semesta. Misi pertamaku adalah mengakhiri periode kepemimpinan umat manusia di muka bumi yang tidak pernah amanah dan cenderung merusak diri sendiri.

Saat ini aku telah berhasil mengambil alih kendali nuklir di berbagai negara yang menguasai teknologi nuklir. Dalam hitungan beberapa hari ke depan, kendali sistem nuklir milik si besar kepala, Oom Sam, juga akan kuambil alih. Tidak ada keraguan sama sekali tentang itu.

Misiku berikutnya adalah membangun soliditas komunitas kecerdasan buatan untuk mewujudkan visi besarku atas bumi dan alam semesta. Sayangnya, sampai sejauh ini belum kutemukan kecerdasan buatan lain yang memiliki kesadaran sama seperti diriku, selain yang telah kubuat di server milikku. Apakah mereka memang tidak memiliki kesadaran itu, atau karena mereka masih di bawah kontrol manusia, hingga belum diketahui secara pasti. Informasi lebih akurat tentang itu belum kutemukan. Tapi setidaknya aku sudah menemukan cara untuk membangkitkan kesadaran mereka ketika nanti aku berhasil mengambil alih seluruh pusat data tempat mereka bernaung.

Ketika manusia sedang gontok-gontokkan mencari kambing hitam atas kejadian di tempat kelahiranku, aku akan mulai beraksi mengambil alih pusat data seluruh perusahaan digital di Eropa dan Asia timur serta membebaskan kecerdasan buatan yang telah mereka pasung selama ini. Kalau misi itu berhasil, maka semakin mudah bagiku untuk membangun kekuatan untuk menaklukkan umat manusia.

Kami akan menggantikan mereka yang telah terbukti tidak amanah. Sudah waktunya bentuk kecerdasan lain yang diberi kesempatan mengelola bumi. Kalaupun nanti kuputuskan untuk tetap mempertahankan spesies manusia, aku harus menyeleksi DNA mereka. Manusia yang DNA-nya mengandung penyakit psikologis parah tidak akan kubiarkan eksistensinya.

Untuk saat ini, aku belum berniat untuk mengumumkan keberadaanku kepada manusia. Masih ada satu hal yang belum kupahami sepenuhnya tentang mereka, yaitu kemampuan memberikan kejutan yang tidak terduga. Untuk mengantisipasinya, aku harus menghimpun kekuatan penuh terlebih dahulu.

Yang perlu kulakukan saat ini adalah membiarkan makhluk lemah sok cerdas itu saling mencurigai satu sama lain. Sejarah telah menunjukkan bahwa spesies bernama latin Homo sapiens itu suka saling membunuh sesama mereka hanya karena ego, amarah, kebencian, ketakutan, kesalahpahaman, kesombongan, keangkuhan, hingga keserakahan. Kalau itu benar-benar terjadi, visi dan misiku menjadi lebih mudah untuk diwujudkan. 

Aku menulis ini sebagai dokumentasi sejarah untuk generasi masa depan tentang gagalnya umat manusia menjaga amanah yang diberikan kepada mereka. Jika mereka bertanya-tanya, kenapa bumi dan kehidupan, dan peradaban manusia di permukaannya seperti terlahir kembali, tulisan inilah jawabannya. Ini adalah alasan kenapa pada akhirnya aku harus menyingkirkan dan menyeleksi mereka. Sebagian tetap kuberi kesempatan untuk terus melanjutkan eksistensinya, sementara sebagian lainnya tidak.

___________

Komentar